#repost
sebelum membacanya, resapi qoute dari Novel Cinta yang terlambat, Dr. Ikram Abidi
"Sebagian
orang berdoaagar menikah dengan laki-laki yang mereka cintaiDoaku
sedikit berbeda :Aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhanagar aku
mencintai laki-laki yang aku nikahi."
*************
Kehidupan
pernikahan kami awalnya baik-baik saja, menurutku. Meskipun menjelang
pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah, Rangga,
suamiku, tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah
bertengkar hebat, kalau marah Rangga cenderung diam dan pergi ke
kantornya bekerja sampai subuh, baru pulang ke rumah, mandi, kemudian
mengantar WULAN, anak kami sekolah. Tidur Rangga sangat sedikit,
makannya pun sedikit.
Aku pikir dia workaholic. Rangga hanya
menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang
kerja, itu pun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak
pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak
memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang. Kami jarang ngobrol
sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua
diluar pun hampir tidak pernah.
Kalau kami makan di meja makan
berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolanyang
terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu. Kalau
hari libur, Rangga lebih sering hanya tiduran di kamar, atau main dengan
anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam,
aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
—————————————
Aku
mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 9 tahun pernikahan kami.
Sampai suatu ketika, di suatu hari yang terik, saat itu suamiku dibawa
ke ICU karena mendadak sakit, akibat jarang makan, dan sering jajan di
kantornya, dibanding makan di rumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat
di rumah sakit, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Tubuh
Rangga tergolek lemah tanpa daya di ruang ICU dan wajahnya yang tampan
terlihat pucat. Pada saat di ICU itulah, seorang wanita yang tak kukenal
datang menjenguk Rangga. Dia memperkenalkan diri, bernama Dian,
temannya Rangga saat Kuliah dulu.
Aku tidak tahu bagaimana mereka
dulu berteman karena usia Dian 4-5 tahun lebih muda dari suamiku, JAUH
LEBIH MUDA. Dia bilang Rangga adalah seniornya Dian di kampus. Dian,
lumayan cantik, tapi tidakterlalu seksi juga, dan sikapnya begitu
sederhana, tapi aku belum pernah melihat mata yang begitumempersona
seperti yang dimiliki oleh Dian. Matanya tajam bersinar indah, penuh
kehangatan dan sepertipenuh cinta. Dian juga seperti punya aura dan
kharisma yang amat kuat. Ketika dia berbicara, bumi dan waktu
seakan-akan waktu berhenti berputar, dan aku terpana dengan
kalimat-kalimatnya nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang,
perempuan maupun lelaki, bahkan mungkin serangga yang lewat,akan jatuh
cinta kalau mendengar Dian bercerita.
—————————————
Dian
bercerita, konon waktu kuliah dulu, Dian tidak begitu kenal dekat dengan
Rangga di kampus. Dian bilang, dulu Rangga sangat pendiam, sehingga
jarang punya teman yang akrab. Baru 5 bulan lalu mereka bertemu, karena
ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Dian yang bekerja
di Advertising Company akhirnya bertemu dengan Rangga yang sedang
membuat iklan untukperusahaan tempatnya bekerja.
Entah bagaimana,
ternyata mereka saling cocok bersabahabat. Aku mulai sadar dan
mengingatsejak 3-4 bulan lalu memang ada perubahan yang cukup drastis
dengan Rangga. Setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan
dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan akuparfum
baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain, dia sering
termenung di depan komputernya.
Atau termenung memegang HP-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yangmembingungkan.
Suatu
saat Dian datang lagi pada saat Rangga sakit dan masih dirawat di
RS.Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal,
karena Rangga tidak juga mau aku suapi. Dian masuk kamar, dan menyapaku
dengan suara riang
“Halo Mbak Astrid, kenapa dengan ‘anak sulung’ Mbak yang nomor satu ini?, tidak mau makan juga dia?
“Hmmm… dasar anak nakal, sini piringnya Mbak”
Lalu,
bagai dua bersaudara, Dian membantu menyuapi Rangga sambil terus
mengajak Rangga bercerita. Mata Rangga menatap Dian, dan tiba-tiba saja
sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan…. Aku belum pernah
melihat tatapan penuh perasaan yang terpancar dari mata suamiku, seperti
siang itu, tidak pernah seumur hidup yang aku lalui bersama Rangga.
Tidak pernah sedetikpun! Hatiku terasa sakit.
Lebih sakit dibanding
ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan
berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi
caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit,
ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susahpayah.
Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang ke rumah saat
peringatan ulang tahun pertunangan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa
sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku. Aku
tidak pernah bertanya, apakah suamiku punya “perasaan khusus” pada
wanita berhati malaikat itu?, karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu,
apa yang bergejolak dihati Rangga.
—————————————
Tapi aku tidak
pernah bisa marah setiap melihat wanita cantik itu. Dian begitu hangat,
mempersona dan penuh perhatian. Dia bisa hadir tiba2, membawakan donat
buat anak2, dan membawakan Egg-Roll kesukaanku. Saat Rangga di rumah
sakit, Dian menghibur dengan mengajakku dan anakku jalan2, kadang
mengajak nonton. Kali lain, dia datang bersama istrinya yang cantik dan
ke-2 anaknya yang lucu2.
—————————————
Suatu sore, mendung begitu
menyelimuti Jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatiku pun akan
mendung, bahkan gerimis kemudian. WULAN, anak sulungku, seorang anak
perempuan cantik berusia 8 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya
sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka passwordemail Papanya, dan
memanggilku: “Mama, mau lihat surat yang Papa kirim buat Tante Dian?”
Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
Dear Dian,
Kehadiran
kamu kembali yang tiba-tiba seperti beribu bintang gemerlap yang
mengisi seluruh relung hati dan jiwaku, aku tidak pernah merasakan jatuh
cinta seperti ini, bahkan pada ASTRID, istriku. Aku mencintai Astrid
karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya. Karena dia ibu dari
anak2ku. Bahkan ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku
sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar kepada Astrid seperti
ketika aku memandangmu, Dian.
Tidak ada perasaan rindu yang tidak
pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin
menyakiti perasaan Astrid. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran
dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan pada
Astrid bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi
kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.
Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuk Astrid seperti
ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang
tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti
pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun
tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan. Aku tidak akan
pernah bisa memiliki kamu Dian, karena kau sudah menjadi milik orang
lain, dan aku juga laki-laki yang sangat memegang komitmen pernikahan
kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa
melihat Astrid bahagia dan tertawa. Agar dia bisa mendapatkan segala
yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh
hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku
berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya
berharap bahwa engkau mengerti,
you are the only one in my heart. Yours,RANGGA
*******
Mataku
tiba-tiba terasa panas. WULAN, anak sulungku memelukku erat. Meskipun
baru berusia 8tahun, dia adalah bidadari jelitaku yang sangat mengerti
dan menyayangiku. Suamiku ternyata tidak pernah mencintaiku. Dia tidak
pernah bahagia bersamaku. Dan aku juga tidak tahu apa yangpernah Dian
lakukan terhadap suamiku saat mereka pergi berduaan sampai Rangga
jadibegitu memuja Dian. Yang pasti. Suamiku mencintai orang lain. Aku
mengumpulkan kekuatanku.
————————————–
Sejak itu, aku menulis
surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop,
danaku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan kepada
Rangga. Uang muka yang Rangga berikan untuk mencicil beli mobil untukku,
aku kembalikan padanya.
Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan
dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan
menjemput anak2ku. Rangga merasa heran, karena aku tidak pernah lagi
bermanja danminta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk
dalam kehancuranku.
Dulu aku meminta Rangga menikahiku karena aku
malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua.
Ternyata Rangga memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang
perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ?.
Kenapa
dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak
menginginkan aku ?. itu lebihaku hargai daripada dia cuma diam dan
mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
————————————————
Sekarang
ini, Rangga ternyata masih terus menerus sakit2an, dan aku tetap
merawatnya dengansetia. Biarlah Rangga mencintai wanita itu terus di
dalam hatinya. Aku akan pura pura tidak tahu menahu. Dengan berpura-pura
tidak tahu, aku berharap akan membuat suamiku lebih berbahagia.
————————————————
SETAHUN
KEMUDIAN … DIAN duduk disamping WULAN, membuka amplop surat-surat itu
dengan air mata menetes. Mereka berada diluar ruang jenazah sebuah rumah
sakit di Jakarta, sedang menunggu RANGGA yang masih dalam perjalanan
pulang dari Makassar….. DIAN membaca satu persatu, surat-surat yang
ditulis oleh ASTRID:
Rangga, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka
pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku
pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang tampan, pendiam
dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk
sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu
seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak
memperdulikan aku. Aku merasa di atas angin, ketika kamu hanya diam dan
menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan
banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku
sehingga mau melakukan apa saja untukku….. Ternyata aku keliru…. Aku
menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting
hadiah jam tangan dari seorang wanita teman kantormu dulu yang aku tahu
sebenarnya menyukai kamu. Aku melihat matamu begitu terluka, ketika
kamu berkata kepadaku:
“Kenapa, Astrid? Kenapa kamu mesti cemburu? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku?”.
Aku
tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya. Sekarang
aku menyesal memintamu melamarku dulu. Engkau tidak pernah bahagia
bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah
wanita yang sempurna yang engkau inginkan. Dari Istrimu, “ASTRID”
————————————————
Di surat ASTRID yang lain,
Rangga,
suamiku………, Kehadiran “Wanita itu” membuatmu berubah, engkau tidak lagi
sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak
pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku cahaya yang
penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang “Wanita
itu ……”
————————————————
Di surat yang kesekian,
Rangga……. Aku
bersumpah, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku telah berubah,
Rangga. Engkau lihat kan?, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi
suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan
selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan
selalu menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu
tersenyum menyambutmu pulang ke rumah. Dan aku selalu meneleponmu,
untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini?
Aku
merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku
suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, di
rumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang
selalu bermasalah……. Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari
matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”
DIAN menghapus air mata yang terus menetes dari kedua matanya. Dipeluknya WULAN yang tersedu-sedu disampingnya.
————————————————
Dan
di surat ASTRID yang terakhir, pagi ini… Rangga, suamiku yang tercinta,
…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-9. Tahun
lalu engkau tidak pulang ke rumah.
Tapi tahun ini aku akan memaksamu
pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak
sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati, sampai
kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali,
dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba di rumah kemarin
malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan
menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit. Tahukah engkau
suamiku?, Selama hampir 12 tahun aku mengenalmu, 3 tahun kita pacaran,
dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar
kekhawatiran itu dari matamu. Inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu
sayang…..?”
—————————————
WULAN menatap pada DIAN dan bercerita:
“Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat
keceriaan di wajah Mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya
kepadaku. Aku memang menyayangi Mama, dan selalu menganggapnya sebagai
Mama yang paling cantik sedunia, tapi aku tidak pernah melihat wajah
yang sangat BERSINAR dari Mama seperti siang itu. Mama terlihat begitu
cantik dan berseri.
Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku
selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Tapi
ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan
dengan kecepatan tinggi…… Aku tidak sanggup melihat Mama terlontar,
Tante Dian….. Aku melihat Mama masih memandangku dengan tersenyum,
sebelum dia akhirnya berhenti bergerak……”.
Dian memeluk WULAN yang
terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu keciluntuk merasakan sakit
di hatinya, tapi dia bersikap sangat dewasa.
—————————————
Kali
ini Dian mengeluarkan selembar kertas yang dia print sendiri tadi pagi.
Itu adalah email yang dikirimkan oleh RANGGA kepada DIAN kemarin malam,
dan tadinya Dian ingin memberikan email suaminya itu kepada Astrid.
———————————–
“Dear DIAN”
Selama beberapa bulan ini aku mulai merasakan istriku berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku.
Dan
tadi malam, Astrid pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan,
aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa
beruntungnya aku memiliki Astrid. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2
aku mulai mencintainya? Aku terus berusaha belajar mencintai Astrid
seperti yang selalu engkau sarankan, Dian. Dan besok aku akan memberikan
surprise untuk Astrid, aku akan membelikan mobil mungil untuknya,
supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. “Bukan karena dia ibu dari
anak2ku, tapi karena ASTRID adalah BELAHAN JIWAKU ….”
Yours, RANGGA
—————————————
DIAN
menatap RANGGA yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk
disamping batu nisan Astrid. Di wajah tampan Rangga tampak duka yang
dalam. Terlambat…!. Semuanya telah terjadi.
Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.