Saturday, February 23, 2013

REPOST




RENEW!!

ASKEB IV


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
                 Kelainan dalam lamanya kehamilan yang meliputi kelahiran prematur dan postmatur masih banyak terjadi di Indonesia.Hal ini tentu saja disebabkan oleh berbagai sebab, dan membawa dampak yang cukup serius bagi ibu dan janin yang ada di dalam kandungan ibu.
                 Sampai saat ini mortalitas dan morbiditas neonatus pada bayi preterm/prematur  masih sangat tinggi. Hal ini berkaitan dengan maturitas pada organ – organ pada bayi baru lahir seperti, paru, otak, dan gastrointestinal.Begitu pula pada kehamilan postterm, kehamilan postterm sangat berpengaruh terutama bagi janin, hal ini berkaitan dengan kurangnya makanan dan oksigen untuk janin.
                 Kelainan lain yang juga terjadi di Indonesia adalah intra uterine fetal growth retardation atau yang akrab disebut pertumbuhan janin terhambat. Pertumbuhan janin terhambat kini merupakan suatu entitas penyakit yang membutuhkan perhatian bagi kalangan luas, karena dapat menyebabkan kematian .dalam jangka panjang terdapat dampak berupa hipertensi, stroke, diabetes, dan berbagai macam penyakit yang dapat dialami oleh janin kelak. Hal ini disebut Barker hipotesis yaitu penyakit pada orang dewasa telah terprogram sejak dalam uterus.
                 Dampak jangka pendek yang paling banyak ditemukan akibat dari kelainan – kelainan di atas adalah kematian janin. Menurut WHO dan The American College of Obstetricians and Gynecologist yang disebut kematian janin adalah janin yang mati di dalam Rahim dengan berat 500 gram atau lebih atau kematian janin dalam Rahim dalam usia kehamilan 20 minggu atau lebih.




      


1.2     Tujuan Penulisan

1.      Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah asuhan kebidanan IV sebagai salah satu bagian dari proses belajar mengajar mahasiswi dan salah satu syarat mengikuti Ujian Akhir Semester.

2.      Tujuan Khusus
Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mahasiswi tentangkelainan lamanya kehamilan dan kematian janin.

1.3     Ruang Lingkup

        Seperti yang kita ketahuiKelainan lamanya kehamilan dan kematian janin adalah kejadian yang sering ditemui oleh karena itu penulis akan mencoba mengulas tentang penyebab, pengelolaan, penanganan, dan pencegahan kelainan lamanya kehamilan dan kematian janin.

1.4     Metode Penulisan

        Dalam menyusun makalah ini penulis menggunakan metode kepustakaan dan mengumpulkan bahan – bahan dari berbagai sumber yang berhubungan dengan kelainan lamanya kehamilan dan kematian janin.

1.5     Sistematika Penulisan
       Penulisan makalah ini terdiri dari tiga bab yang disusun secara sistematika sebagai berikut :
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
       1.1     Latar Belakang
       1.2     Tujuan Penulis
       1.3     Ruang Lingkup
       1.4     Metode Penulisan
       1.5     Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN MATERIKelainan lamanya kehamilan
2.1.1         Persalinan prematur
A.    Epidiomologi
B.     Definisi
C.     Etiologi
D.    Patofisiologi
E.     Diagnosa
F.      Gejala
G.    Penanganan
H.    Komplikasi
I.       Asuhan Kebidanan
2.1.2      Kehamilan Postmatur
A.    Epidiomologi
B.     Definisi
C.     Etiologi
D.    Patofisiologi
E.     Diagnosa
F.      Gejala
G.    Penanganan
H.    Komplikasi
I.       Asuhan Kebidanan
2.1.3            IUGR
A.    Epidiomologi
B.     Definisi
C.     Etiologi
D.    Patofisiologi
E.     Diagnosa
F.      Gejala
G.    Penanganan
H.    Komplikasi
I.       Asuhan Kebidanan

2.1.4            IUFD
A.    Epidiomologi
B.     Definisi
C.     Etiologi
D.    Patofisiologi
E.     Diagnosa
F.      Gejala
G.    Penanganan
H.    Komplikasi
I.       Asuhan Kebidanan

BAB III PENUTUP
       3.1 Kesimpulan
       3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA


















BAB II
TINJAUAN MATERI

2.1  Kelainan lamanya kehamilan

2.1.1        Persalinan premature

A.      Epidiomologi
Badan kesehatan dunia (WHO) bekerja sama dengan March of Dimes, lembaga sosial dari Amerika Serikat yang memiliki misi mencegah bayi lahir prematur dan cacat melaporkan setiap tahun diperkirakan 13 juta bayi lahir secara prematur di seluruh dunia dan satu juta bayi meninggal dunia.
Kelahiran bayi prematur ini paling banyak terjadi di negara miskin dan berkembang, terutama di Afrika dan Asia. Jumlah tertinggi ada di Afrika dan diikuti dengan Amerika Utara.
Di Indonesia
Setiap tahun diperkirakan lahir sekitar 350.000 bayi prematur atau berat badan lahir rendah di Indonesia. Tingginya kelahiran bayi prematur tersebut karena saat ini ada 30 juta perempuan usia subur yang kondisinya kurang energi kronik dan sekitar 50 persen ibu hamil mengalami anemia defisiansi gizi.
Tingginya prevelansi berat badan lahir rendah (BBLR) umumnya karena dari ibu hamil yang kurang gizi. Akibatnya, pertumbuhan janin terganggu sehingga berisiko lahir dengan berat di bawah 2.500 gram. Di Indonesia, diperkirakan prevelansi BBLR mencapai 7-14 persen, bahkan pada beberapa kabupaten mencapai 16 persen. Padahal, berdasarkan simposium Low Birth Weight di Dhaka, Banglades, tingkat indikasi BBLR lebih dari 15 persen dimaknai adanya masalah kesehatan masyarakat yang penting dan serius.
Status gizi ibu hamil yang rendah ini sebenarnya ditentukan jauh sebelum terjadi kehamilan, yaitu selama masa kanak-kanak hingga dewasa. Dilaporkan sekitar 50 persen anak-anak yang kurang gizi adalah perempuan. Bayi prematur yang hidup banyak menderita gangguan kognitif dan neurologis. Selain itu, juga berisiko terhadap penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus, jantung, dan stroke.
Bayi disebut lahir prematur jika usia kehamilan ibu kurang dari 37 minggu, sedangkan kelahiran dianggap normal jika usia kehamilan mencapai 37-40 minggu. Bayi yang lahir prematur berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan. Namun, fasilitas perawatan yang sangat lengkap, seperti yang dimiliki rumah sakit di negara kaya, akan memperbesar peluang bayi prematur untuk bertahan hidup.
B.     Definisi
              Persalinan prematur didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan lengkap 37 minggu atau 259 hari kehamilan (Beck, 2010).
              Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu (Goldenberg, 2008).
              Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20 minggu sampai kurang dari 37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram (Prawirohardjo, 2007).
              Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi ketika usia kehamilan belum mencapai 37 minggu. Persalinan prematur merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian karena menjadi salah satu penyebab utama kematian neonatal. Persalinan prematur menjadi penyebab tingginya angka kematian bayi karena kondisi bayi yang masih lemah. Bayi yang lahir prematur juga memiliki risiko tinggi memiliki cacat neurologis bawaan, termasuk cerebral palsy, cacat penglihatan dan gangguan kecerdasan, terutama bila usia kehamilan di bawah 32 minggu. Bayi tersebut juga berisiko tinggi untuk masalah kesehatan jangka panjang, termasuk penyakit kardiovaskular (serangan jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi) dan diabetes. (http://majalahkesehatan.com/sekilas-tentang-persalinan-prematur/)

C.  Etiologi
1.      Rahim yang berkembang terlalu cepat karena ada lebih dari satu janin di dalamnya atau karena jumlah air ketuban terlalu banyak
2.      Inkompetensi leher rahim (leher rahim tidak menutup dengan rapat)
3.      Pecahnya membran yang menahan air ketuban (pecah ketuban) terlalu dini
4.      Infeksi saluran kencing pada ibu
5.      Ibu bekerja terlalu keras, mengalami stress, menderita anemia atau kurang gizi.
D.   Patofisiologi
Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor resiko mayor atau minor. Faktor resiko minor ialah penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang perhari, riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali.
Faktor resiko mayor adalah kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar atau memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus.
Pasien tergolong resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor resiko mayor atau bila ada 2 atau lebioh resiko minor atau bila ditemukan keduanya. (Kapita selekta, 2000 : 274)

             
D.    Diagnosis
              Sering terjadi kesulitan dalam menentukan diagnosis ancaman persalinan preterm. Tidak jarang kontraksi yang timbul pada kehamilan tidak benar – benar merupakan ancaman proses persalinan. Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai ancaman persalinan preterm, yaitu:
1.      Kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7 – 8 menit sekali atau 2 – 3 kali dalam waktu 10 menit
2.      Adanya nyeri pada punggung bawah ( low back pain )
3.      Perdarahan bercak
4.      Perasaan menekan daerah serviks
5.      Pemeriksaan serviks menunjukkan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan penipisan 50 – 80%
6.      Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
7.      Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm
8.      Terjadi pada usia kehamilan 22 – 37 minggu.
(http://mahdalenaendang.blogspot.com/2012/06/makalah-prematur.html)



E.     Gejala
1.      Kontraksi setiap 10 menit atau lebih sering dalam satu jam (lima atau lebih kontraksi rahim dalam satu jam)
2.      Kram seperti menstruasi yang dirasakan di perut bagian bawah yang terjadi terus-menerus atau hilang-timbul. Kram perut ini bisa terjadi dengan atau tanpa diare
3.      Nyeri punggung bawah yang terasa di bawah pinggang yang terjadi terus-menerus atau hilang-timbul
4.      Tekanan panggul yang terasa seperti bayi mendorong ke bawah
5.       Cairan encer yang keluar dari vagina. Cairan vagina meningkat jumlahnya atau berubah warna. (http://www.sayangbunda.com)

F.     Penanganan
Menjadi pemikiran pertama pada pengelolaan persalinan preterm adalah : apakah ini memenga persalinan preterm. Selanjutnya mencari penyebabnya dan menilai kesejahteraan janin yang dapat dilakukan secara klinis, laboratoris, ataupun ultrasonografi meliputi pertumbuhan/berat janin, jumlah dan keadaan cairan amnion, presentasi dan keadaan janin/ kelainan kongenital. Bila proses persalinan kurang bulan masih tetap berlangsung atau mengancam, meski telah dilakukan segala upaya pencegahan, maka dipertimbangkan :
1.        Seberapa bear kemampuan (dokter spesialis kebidanan, dokter spesialis kesehatan anak, peralatan) untuk menjaga kehidupan bayi preterm atau berapa persen yang akan hidup menurut berat dan usia gestasi tertentu.
2.        Bagaiman persalinan berakhir
3.        Komplikasi yang akan timbul, misalnya perdarahan otak, atau sindroma gawat napas
4.        Pendapat pasien dan keluarga
5.        Dana yang diperlukan
Manajemen persalinan preterm bergantung pada beberapa faktor :
1.        Keadaan selaput ketuban. Pada umumnya persalinan tidak dihambat bilamana selaput ketuban sudah pecah.
2.        Pembukaan serviks. Persalinan akan sulit dicegah bila pembukaan telah mencapai 4 cm.
3.        Umur kehamilan. Makin muda kehamilan, upaya pencegahan makin perlu dilakukan.
4.        Penyebab atau komplikasi persalinan preterm
5.        Kemampuan neonatal intensive care facilities
Beberapa langkah yag dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama mencegah morbiditas dan mortalitas neonatus preterm adalah :
1.        Menghambat proses persalinan preterm dengan memberikan tokolisis
2.        Pematangan surfaktan paru janin dengan kortikosteroid, dan
3.        Bila perlu dilakukan pencegahan terhadap infeksi.

G.    Komplikasi
1.      Sindroma gawat pernafasan (penyakit membran hialin).
                    Paru-paru yang matang sangat penting bagi bayi baru lahir.Agar bisa bernafas dengan bebas, ketika lahir kantung udara (alveoli) harus dapat terisi oleh udara dan tetap terbuka.Alveoli bisa membuka lebar karena adanya suatu bahan yang disebut surfaktan, yang dihasilkan oleh paru-paru dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan.
                    Bayi prematur seringkali tidak menghasilkan surfaktan dalam jumlah yang memadai, sehingga alveolinya tidak tetap terbuka.Diantara saat-saat bernafas, paru-paru benar-benar mengempis, akibatnya terjadi Sindroma Distres Pernafasan.
                    Sindroma ini bisa menyebabkan kelainan lainnya dan pada beberapa kasus bisa berakibat fatal.Kepada bayi diberikan oksigen; jika penyakitnya berat, mungkin mereka perlu ditempatkan dalam sebuah ventilator dan diberikan obat surfaktan (bisa diteteskan secara langsung melalui sebuah selang yang dihubungkan dengan trakea bayi).
2.      Ketidakmatangan pada sistem saraf pusat bisa menyebabkan gangguan refleks menghisap atau menelan, rentan terhadap terjadinya perdarahan otak atau serangan apneu.
                    Selain paru-paru yang belum berkembang, seorang bayi prematur juga memiliki otak yang belum berkembang.Hal ini bisa menyebabkan apneu (henti nafas), karena pusat pernafasan di otak mungkin belum matang.Untuk mengurangi mengurangi frekuensi serangan apneu bisa digunakan obat-obatan.
                    Jika oksigen maupun aliran darahnya terganggu.otak yang sangat tidak matang sangat rentan terhadap perdarahan (perdarahan intraventrikuler).atau cedera .
3.      Ketidakmatangan sistem pencernaan menyebabkan intoleransi pemberian makanan.Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan membatasi jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu banyak dapat menyebabkan bayi muntah.Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan membatasi jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu banyak dapat menyebabkan bayi muntah.
4.      Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan (fibroplasia retrolental).
5.      Displasia bronkopulmoner.
6.      Penyakit jantung.
7.      Jaundice.
                 Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi usus yang normal untuk membuang bilirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan sel darah merah) dalam tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang lahir prematur, memiliki kadar bilirubin darah yang meningkat (yang bersifat sementara), yang dapat menyebabkan sakit kuning (jaundice).
                 Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih belum matang dan karena kemampuan makan dan kemampuan mencernanya masih belum sempurna. Jaundice kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang sejalan dengan perbaikan fungsi pencernaan bayi.
8.      Infeksi atau septikemia.
                 Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang sempurna.Mereka belum menerima komplemen lengkap antibodi dari ibunya melewati plasenta (ari-ari).
Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis) pada bayi prematur lebih tinggi.Bayi prematur juga lebih rentan terhadap enterokolitis nekrotisasi (peradangan pada usus).
9.      Anemia
10.  Bayi prematur cenderung memiliki kadar gula darah yang berubah-ubah, bisa tinggi (hiperglikemia maupun rendah  (hipoglikemia)
11.  Perkembangan dan pertumbuhan yang lambat.
12.  Keterbelakangan mental dan motorik.

H.    Asuhan Kebidanan
·         Memberi nutrisi. Memberi kebutuhan nutrisi pada ibu berupa makanan dan minuman.
·         Memantau dan mengukur tanda-tanda vital.
·         Memberikan lingkungan yang baik agar bayi tetap hangat (suhu bayi harus 36°C – 37°C) dengan memasukkan bayi kedalam inkubator.
·         Menjaga agar saluran nafas bagian atas tetap bebas dengan memperhatikan posisi bayi dan pengisapan lendir jalan nafas secara berkala.
·         Ajarkan dan anjurkan ibu untuk bergerak sedikit, miring ke kiri dan kanan, duduk dan berjalan (mobilisasi dini).
·         Anjurkan ibu untuk makan dan minum.
·         Libatkan suami dan keluarga dalam perawatan ibu.


2.1.2        Kehamilan Postmatur

A.                Epidiomologi
Kehamilan serotinus adalah kehamilan yang berlangsung 42 minggu atau lebih. Istilah yang lebih sering dipakai adalah postmaturitas, postdatism, atau postdates. Kira-kira 10% kehamilan berlangsung terus sampai 42 minggu, 4% berlanjut sampai usia 43 minggu. (FKUP,2005)
Angka kejadian kehamilan lewat bulan atau serotinus kira-kira 10%, berfariasi antara 3,5-14%. Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktuu lebih tinggi daripada dalam kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian kehamilan lewat waktu mencapai 5-7% variasi insiden posterem berkisar antara 2-31,37%.
Leveno melaporkan bahwa dari 727 kehamilan lewat bulan, sekitar 63% dengan umur kehamilan 42-43 minggu, 31% umur kehamilan 43-44 minggu dan 6% pada kehamilan lebih dari 44 minggu.

B.                 Definisi
Kehamilan post term adalah kehamilan yang berlangsung > 40 minggu dihitung menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari. Kehamilan post matur menurut Prof.Dr. dr. Sarwono Prawirohardjo adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap dihitung dari HPHT.
C.                Etiologi
Etiologi pasti belum diketahui. Beberapa teori yang dikemukakan:
     I.          Penurunan kadar estrogen
          Pada kehamilan normal kadar estrogen umumnya tinggi,dan dengan usia kehamilan yang makin bertambah menyebabkan membran janin khususnya menjadi kaya akan dua jenis glikofosdfolipid yaitu fosfatililinosipol dan fosfatililetinolamin, yang keduanya mengandung arakidonat pada posisi-sn-2. Janin manusia tampaknya memicu persalinan melalui mekanisme tertentu yang belum dipahami dengan jelas, sehingga terjadi pemecahan arakidonat dari kedua senyawa glikofosfolipid ini , dengan demikian arakidonat tersedia untuk konversi menjadi PGE-2 dan PGE-2 yang selanjutnya akan menstimulasi penipisan serviks dan kontraksi ritmik uterus yang menjadi ciri khas persalinan normal.
          Kadar Progesteron yang tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga uterus kurang peka terhadap oksitosin

  II.          Faktor stress
          Nwosu dkk.menemukan perbedaan dalam rendahnya kadar kortisol dalam darah bayi sehingga disimpulkan kerentanan terhadap steress merupakan faktor tidak timbulnya his selain kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta.

D.       Patofisiologi
1)      Sindrom posmatur
Bayi postmatur menunjukan gambaran yang khas, yaitu berupa kulit keriput, mengelupas lebar-lebar, badan kurus yang menunjukan pengurasan energi, dan maturitas lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. Kulit keriput telihat sekali pada bagian telapak tangan dan telapak kaki. Kuku biaanya cukup panjang. Biasanya bayi postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya.banyak bayi postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan aspirasi mekonium. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak.
Insidensi sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41, 42, dan 43 minggu masing-masing belum dapat ditentukan dengan pasti. Syndrome ini terjadi pada sekitar 10 % kehamilan antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33 % pada 44 minggu. Oligohidramnion yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan postmaturitas.
2)      Disfungsi plasenta
Kadar eritroprotein plasma  tali pusat meningkat secara signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini,
 bahwa terjadi penurunan oksigen pada janin yang sudah posterm.
Janin posterm mungkin terus bertambah berat badannya sehingga bayi tersebut luar biasa beras pada sat lahir. Janin yang terus tumbuh menunjukan bahwa fungsi plasenta tidak terganggu. Memang, pertumbuhan janin yang berlanjut, meskipun kecepatannya lebih lambat, adalah cirri khas gestasi antara 38 dan 42 minggu.

3)      Gawat janin dan Oligohidramnion
Alasan utama meningkatnya resiko pada janin posterm adalah bahwa dengan diameter tali pusat yang mengecil, diukur dengan USG, bersifat prediktif terhadap gawat janin intrapartum, terutama bila disertai dengan ologohidramnion.
Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati 42 minggu, mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan amnion yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium.

4)      Pertumbuhan janin terhambat
Hingga kini, makna klinis pertumbuhan janin terhambat pada kehamilna yang seharusnya tanpa komplikasi tidak begitu diperhatikan. Divon dkk,. (1998) dan Clausson., (1999) telah menganalisis kelahiran pada hampir 700.000 wanita antara 1987 sampai 1998 menggunakan akte kelahiran medis nasional swedia. Bahwa pertumbuhan janin terhambat menyertai kasus lahir mati pada usia gestasi 42 minggu atau lebih, demikian juga untuk bayi lahir aterm.
Morniditas dan mortalitas meningkatkan secara signifikan pada bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan. Memang, seperempat kasus lahir mati yang terjadi pada kehamilan memanjang merupakan bayi-bayi dengan hambatan pertumbuhan yang jumlahnya relatif kecil ini.
5)      Serviks yang tidak baik
Sulit untuk menunjukan seriks yang tidak baik pada kehamilan memanjang karena pada wanita dengan umur kehamilan 41 minggu mempunyai serviks yang belum berdilatasi. Dilatasi serviks adalah indicator prognostic yang penting untuk keberhasilan induksi dalam persalinan.
E.       Diagnosa
Dengan mengetahui hari pertama menstruasi maka kita akan dapat menentukan:
·         Perhitungan kemungkinan waktu persalinan menurut Naegle
·         Hasil pemeriksaan antenatal berupa :
§  Janin besar untuk masa kehamilan (BMK)
§  Janin kecil untuk masa kehamilan (KMK)
§  Janin sama besarnya untuk masa kehamilan (SMK)
·         Melalui perkiraan tahap aktivitas janin dalam rahim yang (sudah baku)
·         Perbandingan dengan orang lain yang sudah bersalin
·         Menggunakan ultrasonografi untuk memperkirakan berat, waktu persaliunan, menentukan biofisik profil janin, kesejahteraan intraureti. USG, Ukuran diameter bipariental, gerakan janin dan jumlah air ketuban
·         Pemeriksaan rontgenologik, dapat dijumpai pusat-pusat penulangan pada bagian distal femur, bagian proksimal tibia, tulang kuboid, diameter bipariental 9,8 cm atau lebih.
·         Pemeriksaan sitologik air ketuban : air ketuban diambil dengan amniosentesis, baik transvaginal maupun transabdominal. Air ketuban akan bercampur lemak dari sel-sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36 minggu. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru nil maka sel-sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga. Bila :
§  Melebihi 10% : kehamilan di atas 36 minggu
§  Melebihi 50% : kehamilan di atas 39 minggu
·         Amnioskopi : melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurut warnanya karena dikeruhi mekonium.
·         Kardiotografi : mengawasi dan membaca DJJ, karena insufiensi plasenta
·         Uji Oksitosin (stress test) : yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik, hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan.
·         Pemeriksaan kadar estriol dalam urin
·         Pemeriksaan PH darah kepala janin
·         Pemeriksaan sitologi vagina
(Menurut Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Jilid I, 1998)
                   Kita sering kali sukar menetapkan diagnosis kehamilan sirotinus,khususnya di Negara berkembang tetapi dapat di gunakan beberapa Kriteria berikut:
1.      Detak jantung Janin mulai terdengar
2.      Fondoskop pada minggu 18
3.      Dopller pada minggu 12
4.      Quickening terasa mulai minggu 18
5.      Fundus uteri setinggi pusat pada minggu 20
6.      Dendang memeriksakan USG perkiraan usui kehamilan akan lebih tepat untuk kehamilan trimester I dan II, sedangkan pada Trimester III sering kurang cepat. Kenyataan ini sering terjadi oleh karena pertumbuhan janin dalam rahim tidak tetap artinya bukan merupakan pertumbuhan linier.
                   Perubahan yang mendasar yang terjadi pada kehamilan sirotinus atau postmatur bersumber dari kemampuan plasenta untuk memberikan nutrisi dan oksigen serta kemampuan fungsi lainya, dan dapat menyebabkan keadaan sebagai berikut:
1.      Jika fungsi plasenta masih cukup baik dapat menyebabkan:
2.      Tumbuh kembang janin berlangsung terus,sehingga berat badan terus bertambah sekalipun lambat,dapt mencapai lebih dari 4000-4500gr yang di sebut dengan bayi makrosomia.

Bayi postmaturel hipermaturel dengan kriteria:
·         Mungkin dengan berat badsan yang besar atau makrosomia
·         Kuku panjang
·         Penulangan baik
·         Tulang rawan telinga sudah cukup
·         Pertumbuhan genetalia sekunder sudah ada
·         Mata besar dan terbuka
·         Jika fungsi plasenta telah mengalami disfungsi atau insufisiensi, sehingga tidak mampu mamberikan nutrisi dan oksigen yang cukup,akan terjadi sebaliknya dan di sebut sebagai sindron postmature dengan criteria berikut:
§   Bayi tampak tua
§   Kuku panjang
§   Lipid kulit berkurang sehingga menimbulkan keriput terutama di kulit tangan dan kaki
§   Matanya lebar bahkan sudah terbuka
§   Verniks caseosa telah hilangatau berkurang

                   Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan, dengan memperhatikan tanda-tanda postmaturitas yang dapat dibagi dalam 3 stadium :
1.    Stadium I : kulit tampak kering, rapuh dan mudah mengelupas(maserasi), verniks kaseosa sangat sedikit sampai tidak ada.
2.    Stadium II : keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban.
3.    Stadium III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada jaringan tali pusat.Pada saat persalinan, penting dinilai keadaan cairan ketuban. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan pengentalan dengan warna hijau kehitaman, begitu bayi lahir harus segera dilakukan resusitasi aktif. Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan trakhea.

F.        Gejala
Gambaran fisik bayi post-matur:
Ø Panjangnya cukup umur, tetapi berat badannya rendah sehingga tampak kurus
Ø Matang, berada dalam keadaan siaga
Ø Lemak di bawah kulitnya sedikit sehingga kulit pada lengan dan tungkainya tampak menggelambir
Ø Kulitnya kering dan mengelupas
Ø Kuku jari kaki dan kuku jari tangannya panjang
Ø Kuku jari kaki, kuku jari tangan dan pusarnya berwana kehijauan atau kecoklatan karena mekonium (tinja pertama bayi).

G.      Penanganan
Ø  Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik-baiknya.
Ø  Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiense plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat
Ø  Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi.Bila :
·         Riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam Rahim
·         Terdapat hipertensi, pre-eklampsia
·         Kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas
·         Pada kehamilan > 40-42 minggu
       Maka ibu dirawat di rumah sakit :
Ø  Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada
Ø  Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang
Ø  Pembukaan yang belum lengkap,
Ø  persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau pada primigravida tua,
Ø  kematian janin dalam kandungan,
Ø  pre-eklampsia,
Ø  hipertensi menahun,
Ø  anak berharga (infertilitas) dan
Ø  kesalahan letak janin.
Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar dan kemungkinan diproporsi sefalo-pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedatif dan narsoka, jadi pakailah anestesi konduksi.

H.           Komplikasi
Kemungkinan komplikasi pada bayi postmatur hipoksia ;
1. Hipovolemia
2. Asidosis
3. Sindrom gawat napas
4. Hipoglikemia
5. Hipofungsi adrenal.
                   Persalinan janin makrosomia pervaginam akan menimbulkan trauma pada bayi dan maternal yang makin tinggi
·         Komplikasi trauma pada janin atau bayi
·         Asfiksia karena terlalu lama terjepit

                   Truma akibat tindakan oprasi yang di lakukan pervaginam dengan bentuk trias komplikasi:
·         Infeksi
·         Asfiksia
·         Trauma langsung dan perdarahan
·         Komplikasi maternal “trias komplikasi”
Trauma langsung persalinan pada jalan lahir:
·         Robekan luas
·         Fistula rekto-vasiko vaginal
·         Ruptura perineum tingkat lanjut
·         Infeksi karena terbukanya jalan halir secara luas senghingga mudah terjadi kontaminasi bacterial.
Perdarahan:
·         Trauma langsung jalan lahir
·         Atonia uteri
·         Retentio Plasenta

I.              Asuhan Kebidanan
1.        Jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu Supaya Ibu mengerti keadaannya.
2.        Pasien tidur miring sebelah kiri
3.        Pergunakan pemantauan elektronik jantung janin
4.        Beri oksigen bila ditemukan keadaan jantung yang abnormal
5.        Perhatikan jalannya persalinan
6.        Segera setelah lahir, bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi, hipovolemi, hipotermi dan polisitemi
7.        Anjurkan Ibu untuk melakukan persalinan di rumah sakit agar Ibu mendapatkan pertolongan persalinan yang adekuat.
8.        Rujuk Ibu ke Rumah Sakit agar Ibu mendapatkan pertolongan persalinan oleh tenaga yang lebih ahli
(Dikutip dari Buku Maternal dan Neonatal, 2002)


1.1.3             Pertumbuhan Janin terhambat (IUGR)

A.           Epidiomologi
Di negara berkembang angka PJT kejadian berkisar antara 2%-8% pada bayi dismature, pada bayi mature 5% dan pada postmature 15%. Sedangkan angka kejadian untuk SGA adalah 7% dan 10%-15% adalah janin dengan PJT.(5,6)
Pada 1977,  Campbell dan Thoms memperkenalkan ide pertumbuhan simetrik dan pertumbuhan asimetrik. Janin yang kecil secara simetrik diperkirakan mempunyai beberapa sebab awal yang global (seperti infeksi virus, fetal alcohol syndrome).  Janin yang kecil secara asimetrik diperkirakan lebih kearah kecil yang sekunder karena pengaruh restriksi gizi dan pertukaran gas. Dashe dkk mempelajari hal tersebut diantara  1364 bayi PJT (20% pertumbuhan asimetris, 80% pertumbuhan simetris) dan 3873 bayi dalam presentil 25-75 (cukup untuk usia kehamilan). Tabel memperlihatkan daftar statistik yang signifikan pada kejadian dan hasil perinatal diantara kelompok tersebut.(7)
ss
Kejadian dan hasil perinatal :
Kejadian
PJTAsimetris
PJTSimetris
Sesuai usia gestasi
Anomalies
14%
4%
3%
Morbiditas tidak serius
86%
95%
95%
Induksi persalinan (<36 wk)
12%
8%
5%
Tekanan darah tinggi dalam kehamilan (<32 wk)
7%
2%
1%
Intubasi dalam VK
6%
4%
3%
Neonatal ICU
18%
9%
7%
Respiratory distress syndrome
9%
4%
3%
Perdarahan intraventrikular(grade III atau IV)
2%
<1%
<1%
Kematian Neonatal
2%
1%
1%
Usia gestasi saat persalinan
36.6 mgg ± 3.5 mgg
37.8 mgg ± 2.9 mgg
37.1 mgg ± 3.3 mgg
Kelahiran preterm <32 mgg
14%
6%
11%




B.            Definisi
                   Pertumbuhan janin terhambat ditentukan bila berat janin kurang dari 10% dari berat yang harus dicapai paa usia kehamilan tertentu. Biasanya perkembangan yang terhambat diketahui setelah 2 minggu tidak ada pertumbuhan.

C.           Etiologi
·         Faktor ibu, golongan faktor ibu merupakan penyebab yang terpenting
ü  Penyakit hipertensi (kelainan vaskular ibu).
ü  Kelainan uterus.
ü  Kehamilan kembar.
ü  Ketinggian tempat tinggal.
ü  Keadaan gizi.
ü  Perokok.

                   Pada trimester kedua terdapat kelanjutan migrasi interstitial dan endotelium trophoblas masuk jauh ke dalam arterioli miometrium sehingga aliran menjadi tanpa hambatan menuju retroplasenter sirkulasi dengan tetap.Aliran darah yang terjamin sangat penting artinya untuk tumbuh kembang janin dengan baik dalam uterus.Dikemukakan bahwa jumlah arteri-arterioli yang didestruksi oleh sel trophoblas sekitar 100-150 pada daerah seluas plasenta sehingga cukup untuk menjamin aliran darah tanpa gangguan pada lumen dan arteri spiralis terbuka.
                   Gangguan terhadap jalannya destruksi sel trophoblas ke dalam arteri spiralis dan arteriolinya dapat menimbulkan keadaan yang bersumber dari gangguan aliran darah dalam bentuk “iskemia retroplasenter”. Dengan demikian dapat terjadi bentuk hipertensi dalam kehamilan apabila gangguan iskemianya besar dan gangguan tumbuh kembang janin terjadi apabila iskemia tidak terlalu besar, tetapi aliran darah dengan nutrisinya merupakan masalah pokok.Janin yang tumbuh di luar uterus biasanya mengalami hambatan
pertumbuhan.
                   Kehamilan dengan dua janin atau lebih kemungkinan besar dipersulit oleh pertumbuhan kurang pada salah satu atau kedua janin dibanding dengan janin tunggal normal.Hambatan pertumbuhan dilaporkan terjadi pada 10 s/d 50 persen bayi kembar.Jika terpajan pada lingkungan yang hipoksik secara kronis, beberapa janin mengalami penurunan berat badan yang signifikan.Janin dari wanita yang tinggal di dataran tinggi biasanya mempunyai berat badan lebih rendah daripada mereka yang dilahirkan oleh ibu yang tinggal di dataran rendah.
                   Wanita kurus cenderung melahirkan bayi kecil, sebaliknya wanita gemuk cenderung melahirkan bayi besar.Agar nasib bayi baru lahir menjadi baik, ibu yang kurus memerlukan kenaikan berat badan yang lebih banyak dari pada ibu-ibu yang gemuk dalam masa kehamilan.Faktor terpenting pemasukan makanan adalah lebih utama pada jumlah kalori yang dikonsumsi setiap hari dari pada komposisi dari kalori.Dalam masa hamil wanita keadaan gizinya baik perlu mengkonsumsi 300 kalori lebih banyak dari pada sebelum hamil setiap hari.
                   Penambahan berat badan yang kurang di dalam masa hamil menyebabkan kelahiran bayi dengan berat badan yang rendah.
                   Kebiasaan merokok terlebih dalam masa kehamilan akan melahirkan bayi yang lebih kecil sebesar 200 sampai 300 gram pada waktu lahir. Kekurangan berat badan lahir ini disebabkan oleh dua faktor yaitu :
ü  wanita perokok, cenderung makan sedikit karena itu ibu akan kekurangan substrat di dalam darahnya yang bisa dipergunakan oleh janin,
ü  merokok menyebabkan pelepasan epinefrin dan norepinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi  yang berkepanjangan sehingga terjadi pengurangan jumlah  pengaliran darah kedalam uterus dan yang sampai ke dalam ruang intervillus.
v  Faktor anak.
ü  Kelainan kongenital.
ü  Kelainan genetic
ü  Infeksi    janin,     misalnya    penyakit     TORCH     (toksoplasma,     rubela, sitomegalovirus, dan   herpes).
       Infeksi intrauterin adalah penyebab lain dari hambatan pertumbuhan  intrauterin. Banyak tipe seperti pada infeksi oleh TORCH (toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, dan herpes simplex) yang bisa menyebabkan hambatan pertumbuhan intrauterin sampai 30% dari kejadian.
       Infeksi AIDS pada ibu hamil menurut laporan bisa mengurangi berat badan lahir bayi sampai 500 gram dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir sebelum terkena infeksi itu. Diperkirakan infeksi intrauterin meninggikan kecepatan metabolisme pada janin
       tanpa kompensasi peningkatan transportasi substrat  oleh plasenta sehingga pertumbuhan janin menjadi subnormal atau dismatur.

v  Faktor plasenta
                   Penyebab faktor plasenta dikenal sebagai insufisiensi plasenta.Faktor plasenta dapat dikembalikan pada faktor ibu, walaupun begitu ada beberapa kelainan plasenta yang khas seperti tumor plasenta.  Sindroma insufisiensi  fungsi plasenta umumnya berkaitan erat dengan aspek morfologi dari plasenta.
                   Pengertian dasar dari sindroma insufisiensi plasenta menunjukkan adanya satu kondisi kegawatan janin yang bisa nyata selagi masih dalam masa kehamilan (insufisiensi kronik) atau dalam masa persalinan (insufisiensi akut) sebagai akibat
gangguan pada fungsi plasenta. Dipandang dari sudut kepentingan janin sebuah plasenta mempunyai fungsi-fungsi yaitu : respirasi,  nutrisi, ekskresi, sebagai  liver sementara (transient fetal liver), endokrin dan  sebagai gudang penyimpanan dan pengatur fungsi metabolisme.
                   Dalam  klinis fungsi ganda ini tidak dapat dipisah-pisahkan dengan nyata, yang dapat dikenal hanyalah tanda-tanda kegagalan keseluruhannya yang bisa nyata dalam masa hamil dan menyebabkan hambatan pertumbuhan intrauterin atau kematian intrauterin, atau menjadi nyata dalam waktu persalinan dengan timbulnya gawat janin atau hipoksia janin dengan segala akibatnya.

D.           Patofisiologi
a.       Kondisi kekurangan nutrisi pada awal kehamilan
Pada kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas dipengaruhi oleh makanan. Studi pada binatang menunjukkan bahwa kondisi kekurangan nutrisi sebelum implantasi bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan nutrisi pada awal kehamilan dapat mengakibatkan janin berat lahir rendah yang simetris. Hal sebaiknya terjadi kondisi percepatan pertumbuhan pada kondisi hiperglikemia pada kehamilan lanjut
b.      Kondisi kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan
Defisiensi makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta, tapi bisa juga terjadi peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai kompensasi. Didapati ukuran plasenta yang luas.
c.       Kondisi kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan
            Terjdi pertumbuhan janin yang lambat yang mempengaruhi interaksi antara j           anin dengan  plasenta. Efek kekurangan makan tergantung pada lamanya kekurangan. Pada kondisi akut terjadi perlambatan pertumbuhan dan kembali meningkat jika nutrisi yang diberikan membaik. Pada kondisi kronis mungkin telah terjadi proses perlambatan pertumbuhan yang irreversibel. (http://anotebookmidwifemcb.wordpress.com/iugr/)
E.            Diagnosa
                   Identifikasi janin yang tumbuh tidak sesuai masih menjadi tantangan.Masalah ini digarisbawahi oleh kenyataan bahwa identifikasi seperti itu tidak selalu mungkin dilakukan bahkan di ruang perawatan sekalipun.Bagaimanapun juga, ada teknik klinis sederhana dan teknologi yang lebih kompleks yang terbukti bermanfaat untuk membantu menyingkirkan dan mendiagnosis pertumbuhan janin terhambat. Beberapa teknik yang banyak digunakan serta yang potensial digunakan sebagai berikut:
1.      Pengukuran tinggi fundus uteri.
            Pengukuran tinggi fundus uteri yang dilakukan secara serial dan cermat selama kehamilan adalah metode penapisan yang sederhana, aman, tidak mahal, dan cukup akurat untuk mendeteksi banyak janin yang kecil untuk masa kehamilan (Gardosi dan Francis, 1999).1 Kekurangannya yang utama adalah ketidak tepatannya.Jensen dan Larsen (1991) serta Walvaren dkk.(1995) menemukan bahwa pengukuran simfisis-fundus membantu mengidentifikasi hanya 40 persen bayi-bayi seperti itu.Jadi, bayi yang kecil untuk masa kehamilan dapat terlewatkan atau terdiagnosis berlebihan. Meskipun demikian, hasil-hasil ini tidak mengurangi pentingnya pengukuran fundus yang dilakukan secara cermat sebagai cara penapisan sederhana.
            Metode yang digunakan di kebanyakan klinik di Amerika Serikat dilaporkan oleh Jimenez dkk. (1983). Singkatnya, cara ini menggunakan sebuah tali pengukur yang dikalibrasi dalam sentimeter dan dipasang pada lengkung abdomen dari tepi atas simfisis sampai ke tepi atas fundus uteri yang diidentifikasi dengan palpasi atau perkusi. Tali pengukur tadi dipasang dengan penunjuk angka yang jauh dari pemeriksaan untuk menghindari bias. Antara usia gestasi 18 dan 30 minggu, tinggi fundus uteri dalam sentimeter bertepatan dengan minggu gestasi. Bila ukurannya lebih dari 2 sampai 3 cm dari tinggi seharusnya, pertumbuhan janin yang tidak sesuai dapat dicurigai.


2.      Pemeriksaan dengan ultrasonografi
            Bila terduga telah ada hambatan pertumbuhan janin misalnya karena pada kehamilan itu terdapat faktor-faktor risiko seperti hipertensi, pertambahan berat badan ibu hamil tidak mencukupi, atau tinggi fundus uteri jauh tertinggal atau ibu hamil dengan diabetes melitus dengan komplikasi vaskuler, pemeriksaan lanjutan dengan uji yang lebih sensitif perlu dilakukan untuk konfirmasi. Kriteria ultrasonografi untuk pertumbuhan janin terhambat terutama peningkatan rasio panjang femur dari lingkaran perut, peningkatan lingkar kepala dari lingkar perut dan oligohidramnion. Telah diketahui ada korelasi yang baik antara pengukuran tinggi fundus uteri dengan beberapa antropometri janin seperti diameter biparietal (DBP) atau lingkaran perut (LP) janin (r = 0,8).
            Pemeriksaan dengan ultrasound real-time akan bisa membedakan hambatan pertumbuhan intrauterin asimetri dengan hambatan pertumbuhan intrauterin simetri, selain dari itu dapat pula mengukur berat janin, gangguan pertumbuhan kepala (otak), kelainan kongenital dan olighidramnion. Jika usia kehamilan dapat diketahui dengan pasti, maka beberapa antropometri janin seperti DBP, lingkaran kepala (LK), panjang femur, dan LP akan dapat memberikan kontribusi menguatkan diagnosis hambatan pertumbuhan intrauterin dan menetapkan beratnya atau tingkat gangguan pertumbuhan. DBP kepala janin baik sekali sebagai alat bantu menetapkan usia kehamilan dalam trimester kedua karena kesalahannya relatif sangat kecil pada waktu ini, dan terdapat korelasi yang dekat sekali antara DBP dengan usia kehamilan.
            Kehamilan pengukuran 5mm hanya sesuai dengan beda 1minggu pertumbuhan saja. Sayangnya, korelasi DBP dengan usia kehamilan makin berkurang pada usia kehamilan yang lebih lanjut, semakin tua usia kehamilan semakin kurang tepat usia kehamilan bila diukur pada DBP. Pada pasien yang terduga mengalami hambatan pertumbuhan intrauterin, pengukuran kepala janin harus telah dimulai pada usia kehamilan 16 sampai 20 minggu. Karena standar error pengukuran DBP sekitar 2 mm dan pertumbuhan DBP sekitar 1,5 mm per minggu dalam trimester terakhir, maka pengukuran DBP serial dalam trimester ketiga tidak dapat memberi kontribusi yang cukup baik untuk memantau hambatan pertumbuhan intrauterin, terlebih hambatan pertumbuhan kepala relatif baru terjadi belakangan sekali (karena fenomena brain sparing effect) pada sindroma insufisiensi plasenta.
            Untuk maksud mendiagnosis hambatan pertumbuhan intrauterin lebih baik dipergunakan perbandingan ukuran (ratio) antara LK dengan LP yang sekaligus dapat membedakan hambatan pertumbuhan intrauterin simetris dan asmetris.Ratio LK/LP bertambah kecil semakin tua umur kehamilan. Pada usia kehamilan sampai dengan 32 minggu LK > LP, pada usia kehamilan antara 32 minggu sampai 36 minggu ukuran keduanya lebih kurang sebanding (LK = LP), dan setelah kehamilan berusia 36 minggu keatas LK < LP. Jadi pada hambatan pertumbuhan intrauterin asimetri terdapat ratio LK/LP lebih besar daripada yang seharusnya menurut usia kehamilan.
            Bila diagnosis hambatan pertumbuhan intrauterin telah ditegakkan, maka pengukuran DBP akan menolong memonitor pertumbuhan otak janin dan mencegah disfungsi susunan saraf pusat yang terjadi bilamana pertumbuhan DBF tidak bertambah lagi.

3.      Penilaian volume cairan ketuban
            Pada hambatan pertumbuhan intrauterin terutama pada kehamilan yang berlatar belakang hipertensi sering disertai oligohidramnion.Oligohidramnion bisa berakibat tali pusat terjepit dan kematian janin dapat terjadi dengan tiba-tiba.
            Oleh sebab itu penilaian volume cairan ketuban perlu dipantau dari minggu keminggu dengan pesawat ultrasonografi. Penilaian volume cairan ketuban dengan ultrasonografi bisa dengan cara mengukur kedalaman cairan ketuban yang paling panjang pada satu bidang vertikal atau bisa juga dengan cara menghitung indeks cairan ketuban. Pada cara pertama, jika kedalaman cairan ketuban yang terpanjang kurang dari pada 2 cm, adalah merupakan tanda telah ada oligohidramnion dan janin yang sedang mengalami kegawatan, kehamilan perlu segera diterminasi.
            Sebaliknya jika panjang kolom dari cairan ketuban berukuran > 8 cm merupakan tanda telah ada polihidramnion. Pada cara kedua, uterus dibagi dalam 4 kuadran melalui bidang sagital dan vertikal yang dibuat keduanya melalui pusat. Kolom cairan ketuban yang terpanjang dari tiap kuadran dijumlahkan.Bila penjumlahan panjang kolom cairan ketuban itu < 5 cm, merupakan tanda telah ada oligohidramnion.Bila panjangnya berjumlah antara 18 sampai 20 cm merupakan tanda telah ada polihidramnion.

F.      Pemeriksaan Doppler Velosimetri
            Pemeriksaan Doppler velosimetri arteria umbilikalis bisa mengenal adanya pengurangan aliran darah dalam tali pusat akibat resistensi vaskuler dari plasenta.Ditandai dengan tidak ada atau berbaliknya aliran akhir diastolik yang menunjukkan tahanan yang tinggi.Pada kelompok dengan rasio S/D (systolic and diastolic ratio) yang tinggi > 3 terdapat angka kesakitan dan kematian perinatal yang tinggi dan karenanya dianggap adalah indikasi untuk terminasi kehamilan.

G.    Pemantauan kegiatan kerja jantung janin
            Bila hambatan pertumbuhan intrauterin itu berlatar belakang kekurangan gizi disebabkan kurang makan atau hambatan pertumbuhan intrauterin itu karena ibu merokok jarang sekali bisa menyebabkan kematian janin. Untuk maksud ini dilakukan pemeriksaan contraction stress test (CST) atau uji beban kontraksi setiap minggu dengan menginfus oksitosin atau merangsang puting susu ibu untuk membangkitkan kontraksi pada uterus. Pemeriksaan non-stress test (NST) atau uji tanpa beban dua kali seminggu dikatakan lebih baik lagi untuk memantau kesehatan janin terlebih bila bersama dengan pemeriksaan profil atau tampilan biofisik janin yang dilakukan setiap minggu.

H.            Uji Biokimiawi
          Pemeriksaan ini tak lain adalah pemeriksaan fungsi plasenta yang terutama bermanfaat untuk mengetahui kesehatan janin pada keadaan maternal yang patologik yang telah disertai oleh insufisiensi fungsi plasenta dimana produksi bahan-bahan tersebut oleh plasenta semuanya semakin berkurang.
          Pemeriksaan kadar AFP (alfa-feto protein) serum ibu dalam kehamilan berusia sekitar 16 minggu memperlihatkan bahwa nilai tinggi sampai lebih dari pada dua kali lipat nilai rata-rata sering kali akan disertai oleh kelahiran preterm atau kemudian berkembang menjadi hambatan pertumbuhan intrauterin. Ini misalnya terjadi pada kasus dengan solusio plasenta dini (± pada kehamilan 16 minggu) yang menyebabkan perembesan AFP janin kedalam darah maternal sehingga kadarnya dalam darah ibu menjadi tinggi.Kerusakan plasenta kemudiannya dapat menyebabkan hambatan pada pertumbuhannya yang pada ujungnya berakibat kepada pertumbuhan janin.

I.              Terminasi kehamilan lebih awal
          Berhubung pemantauan janin dengan program, fetal surveillance .belum mencapai tingkat kesempurnaan yang pasti dan sebagian bayi-bayi yang lahir rusak kesehatannya atau meninggal akibat penderitaan intrauterin, maka sebaiknya janin dengan hambatan pertumbuhan intrauterin dilahirkan lebih awal dipusat pelayanan perinatal. Bila semua hasil pemeriksaan fetal surveillance normal terminasi kehamilan yang optimal dilakukan pada usia kehamilan 38 minggu. Jika serviks matang dilakukan induksi partus. Sebaliknya bila hasil fetal surveillance menjadi abnormal dalam masa pemantauan sebelum mencapai usia kehamilan 38 minggu, kematangan paru janin perlu dipastikan dengan pemeriksaan rasio lesitin/sfingomielin air ketuban. Bila ternyata paru-paru janin telah matang (rasio L/S= 2 atau lebih) terminasi kehamilan dilakukan bila terdapat :
Ø  uji beban kontraksi positif
Ø  oligohidramnion
Ø  DBF tidak bertambah lagi yang berarti otak janin berisiko tinggi mengalami disfungsi.

                   Pada umumnya hambatan pertumbuhan intrauterin pada janin yang masih dalam usia preterm tidak ada suatu tindakan tertentu yang dapat memperbaiki keadaan. Dalam penanganannya pertama perlu dipastikan bahwa janin tidak mempunyai kelainan kongenital yang berat seperti trisomi dan sebagainya untuk menghindari intervensi/bedah sesar yang tidak perlu.Bila kelainan kongenital ini tidak ada, ibu hamil dengan hambatan pertumbuhan intrauterin yang berat segera dirawat inap.Istirahat baring, berikan makanan yang bernilai gizi tinggi, dan lakukan fetal surveillance.
Bagi hambatan pertumbuhan intrauterin yang berlatar belakang kurang gizi ibu, ibu perokok atau peminum atau peminat narkoba, penghentian kebiasaan buruk ini dan perbaikan gizi disertai banyak istirahat baring akan bisa memperbaiki pertumbuhan janin sekaligus sebagai upaya mengurangi risiko lahir preterm.
                   Menurut teori dan hasil suatu penelitian pemberian aspirin dosis rendah sejak awal sebagai terapi anti trombosit akan mencegah pembentukan thrombosis uteriplasenta, infark pada plasenta, maupun hambatan pertumbuhan intrauterine idiopati pada wanita dengan riwayat hambatan pertumbuhan intrauterin berat.
Pada umumnya terminasi kehamilan pada fetus dengan hambatan pertumbuhan intrauterin berat dan preterm adalah lebih menguntungkan dari pada membiarkan kehamilan yang demikian berlangsung berlama-lama karena biasanya fetus yang demikian sudah cukup matang untuk dapat hidup jika :
ü  Persalinan dapat berlangsung cepat dan tidak berlama-lama dan membiarkan risiko gawat bertambah
ü  Tersedia monitoring yang ketat dalam masa persalinan untuk mencegah memburuknya keadaan atau persalinan diselesaikan dengan bedah sesar
ü  Perawatan intensif harus segera dimulai sejak neonatus lahir.
ü  Monitoring intrapartum

                   Dalam persalinan perlu dilakukan pemantauan terus menerus sebab fetus dengan hambatan pertumbuhan intrauterin mudah menjadi hipoksia dalam masa ini.Oligohidramnion bisa menyebabkan tali pusat terjepit sehingga rekaman jantung janin menunjukkan deselerasi variabel.Keadaan ini diatasi dengan memberi infus kedalam rongga amnion (amnioinfusion).Pemantauan dilakukan dengan kardiotokografi kalau bisa dengan rekaman internal pada mana elektroda dipasang pada kulit kepala janin setelah ketuban pecah/dipecahkan dan kalau perlu diperiksa pH janin dengan pengambilan sampel darah pada kulit kepala.
                   Bila pH darah janin < 7,2 segera lakukan resusitasi intrauterin kemudian disusul terminasi kehamilan dengan bedah sesar. Resusitasi intrauterin dilakukan dengan cara ibu diberi infus (hidrasi maternal) merebahkan dirinya kesamping kiri, bokong ditinggikan sehingga bagian terdepan lebih tinggi, berikan oksigen kecepatan 6 I/menit, dan his dihilangkan dengan memberi tokolitik misalnya terbutalin 0,25 mg subkutan.

F.            Gejala
·         Gangguan pada uterus dan janin untuk tumbuh normal diatas periode 4 minggu.
·         TFU paling sedikit kurang 2 cm dari harapan untuk jumlah terhadap usia kehamilan dari pengukuran TFU sebelumnya.
·         Kekurangan penambahan berat badan ibu.
·         Gerakan janin yang kurang.
·         Kekurangan volume cairan amnion.
·         Lingkaran abdomen kecil (ukuran hepar yang kecil)
·         Tungkai yang kurus (masa otot ↓)
·         Kulit keriput ( lemak subkutis ↓)
(Prawiroharjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka.)


G.           Penanganan
            Langkah pertama dalam menangani PJT adalah mengenali pasien-pasien yang mempunyai resiko tinggi untuk mengandung janin kecil. Langkah kedua adalah membedakan janin PJT atau malnutrisi dengan janin yang kecil tetapi sehat. Langkah ketiga adalah menciptakan metode adekuat untuk pengawasan janin pada pasien-pasien PJT dan melakukan persalinan di bawah kondisi optimal.
Untuk mengenali pasien-pasien dengan resiko tinggi untuk mengandung janin kecil, diperlukan riwayat obstetrik yang terinci seperti hipertensi kronik, penyakit ginjal ibu dan riwayat mengandung bayi kecil pada kehamilan sebelumnya. Selain itu diperlukan pemeriksaan USG. Pada USG harus dilakukan taksiran usia gestasi untuk menegakkan taksiran usia gestasi secara klinis. Kemudian ukuran-ukuran yang didapatkan pada pemeriksaan tersebut disesuaikan dengan usia gestasinya.Pertumbuhan janin yang suboptimal menunjukkan bahwa pasien tersebut mengandung janin PJT.
Tatalaksana kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada terapi yang paling efektif sejauh ini, adalah untuk melahirkan bayi yang sudah cukup usia dalam kondisi terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu. Tatalaksana yang harus dilakukan adalah :
1.       PJT pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan adalah segera dilahirkan
2.      PJT jauh sebelum waktu melahirkan. Kelainan organ harus dicari pada janin ini, dan bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis (pemeriksaan cairan ketuban) atau pengambilan sampel plasenta, dan pemeriksaan darah janin dianjurkan
a.         Tatalaksana umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan kromosom
serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus dibatasi disertai dengan nutrisi
yang baik. Tirah baring dengan posisi miring ke kiri, Perbaiki nutrisi dengan menambah 300 kal perhari, Ibu dianjurkan untuk berhenti merokok dan mengkonsumsi alkohol, Menggunakan aspirin dalam jumlah kecil dapat membantu dalam beberapa kasus IUGR Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan maka harus segera dirawat di rumah sakit. Pengawasan pada janin termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta pertumbuhan janin menggunakan USG setiap 3-4 minggu
b.      Tatalaksana khusus : pada PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya dilahirkan, hanya
                  terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil
                  tidak adekuat maka nutrisi harus diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat,
   penggunaan narkotik dan alkohol, maka semuanya harus dihentikan
a.        Proses melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin prematur.Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk mencegah komplikasi
                  setelah melahirkan. Operasi caesar dilakukan apabila terjadi distress janin serta
 perawatan intensif neonatal care segera setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan.
                  Kemungkinan kejadian distress janin selama melahirkan meningkat pada PJT karena
                  umumnya PJT banyak disebabkan oleh insufisiensi  plasenta yang diperparah dengan
                  proses melahirkan.
           
H.           Komplikasi
  1. Anomali janin
  2. Asfiksia perinatal
  3. Persalinan operatif
  4. Kematian perinatal
  5. Hipoglikemia dan hipokalsemia neonatal
  6. Enterokolitis nekrotikan
  7. “longterm handicap”
  8. Peningkatan kejadian diabetes non-insulin dependent dan penyakit jantung koroner
Penurunan jumlah cairan amnion sangat berhubungan dengan PJT.
Morbiditas akan terjadi bila AFI < 5 cm.  Kombinasi OLIGOHIDRAMNION dan PJT akan memberikan outcome kehamilan yang buruk dan dianjurkan untuk segera mengakhiri kehamilan terutama bila usia kehamilan > 36 minggu.

I.              Asuhan Kebidanan
Pada Ibu :
a.       setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan kromosom serta infeksi dalam kehamilan maka aktivitas fisik harus dibatasi disertai dengan nutrisi yang baik. Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan maka harus segera dirawat di rumah sakit. Pengawasan pada janin termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan janin serta pertumbuhan janin menggunakan USG setiap 3-4minggu. 

b.      pada PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya dilahirkan, hanya terapi suportif yang dapat dilakukan. Apabila penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat maka nutrisi harus diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat, penggunaan narkotik dan alkohol, maka semuanya harus dihentikan. 

c.       pematangan paru harus dilakukan pada janin prematur. Pengawasan ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk mencegah komplikasi setelah melahirkan. Operasi caesar dilakukan apabila terjadi distress janin serta perawatan intensif neonatal care segera setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan kejadian distress janin selama melahirkan meningkat pada PJT karena umumnya PJT banyak disebabkan oleh insufisiensi plasenta yang diperparah dengan proses melahirkan. 

Pada Bayi :

1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterin. 
2. Memeriksa kadar gula darah dengan dextrostix jika hipoglikemi harus segera diatasi. 
3. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya. 
4. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibanding dengan bayi SMK 
5. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi mekonium. 


1.2                            Kematian Janin dalam kandungan (IUFD)
A.           Epidiomologi
Janin saat ini dipandang sebagai pasien yang menghadapi resiko mortalitasdan morbiditas yang cukup serius. Secara epidemiologi, angka insidensikematian janin di seluruh dunia diperkirakan mencapai rentang 2,14 – 3,82 juta jiwa. Angka ini mengalami penurunan pada tahun 2009, yaitu sejumlah 14,5%.Kisaran angka tersebut adalah 18,9 lahir mati per 1000 kelahiran (MacDorman,2009).
Pada tahun 2005, data dari Laporan Statistik Vital Nasional menunjukkantingkat nasional AS kelahiran mati rata-rata 6,2 per 1000 kelahiran (Barfield,2002). 
Pada tahun 2009, jumlah global diperkirakan saat dilahirkan adalah 2,64 juta (berkisar ketidakpastian, 2,143820000). Tingkat kelahiran mati di seluruhdunia menurun 14,5% dari 22,1 bayi lahir mati per 1000 kelahiran pada tahun1995-18,9 lahir mati per 1000 kelahiran pada tahun 2009 (MacDorman, 2009).Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Depkes RI tahun 2003 (POGI,2006) mengenai kegagalan yang terjadi selama masa kehamilan, didapatkan datamortalitas perinatal di Indonesia berkisar 24 dari 1000 kehamilan. Kondisikesehatan janin memiliki kontribusi tertinggi dalam mengakibatkan mortalitasperinatal (39%) dibandingkan dengan faktor maternal (5,1%). Resiko tingginya angka kematian yang berkaitan dengan faktor maternal kebanyakan berupa jarak 15 bulan kehamilan dari persalinan terakhir dan usia ibu hamil di atas 40 tahun


B.     Definisi
            keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan.Kematian janin dalam kandungan (KJDK) atau intra uterine fetal deadth (IUFD), sering dijumpai baik pada kehamilan dibawah 20 minggu maupun sesudah kehamilan 20 minggu.Sebelum 20 minggu :Kematian janin dapat terjadi dan biasanya berakhir dengan abortus.
                   Bila hasil konsepsi yang sudah mati tidak dikeluarkan dan tetap tinggal dalam rahim disebut missed abortion.Sesudah 20 minggu :Biasanya ibu telah merasakan gerakan janin sejak kehamilan 20 minggu dan seterusnya. Apabila wanita tidak merasakan gerakan janin dapat disangka terjadi kematian dalam rahim


C.    Etiologi
Ø  Perdarahan : plasenta previa dan solusio placenta
Ø  Pre eklamsi dan eklamsi
Ø  Penyakit-penyakit kelainan darah
Ø  Penyakit-penyakit infeksi dan penyakit menular
Ø  Penyakit-penyakit saluran kencing : bakteriuria, peelonefritis, glomerulonefritis dan payah ginjal
Ø  Penyakit endokrin : diabetes melitus, hipertiroid
Ø  Kelainan kromosom
Ø  Trauma saat hamil
Ø  Kelainan bawaan janin
Ø  Malnutrisi dan sebagainya.

D.    Patofisiologi
          Janin bisa juga mati di dalam kandungan (IUFD) karena beberapa factor antara lain gangguan gizi dan anemia dalam kehamilan,hal tersebut menjadi berbahaya karena suplai makanan yang di konsumsi ibu tidak mencukupi kebutuhan janin. Sehingga pertumbuhan janin terhambat dan dapat mengakibatkan kematian. Begitu pula dengan anemia, karena anemia adalah kejadian kekurangan FE maka jika ibu kekurangan Fe dampak pada janin adalah irefersibel. Kerja organ – organ maupu aliran darah janin tidak seimbang dengan pertumbuh janin (IUGR).

E.     Diagnosis
1.             Anamnesis
Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari, atau gerakan janin sangat berkurang.Ibu merasakan perutnya tidak bertambah besar, bahkan bertambah kecil atau kehamilan tidak seperti biasanya.Atau wanita belakangan ini merasakan perutnya sering menjadi keras dan merasakan sakit seperti mau melahirkan.
2.             Inspeksi
Tidak terlihat gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat terlihat terutama pada ibu yang kurus.
3.           Palpasi
Tinggi fundus > rendah dari seharusnya tua kehamilan, tidak teraba gerakanan janin.Dengan palpasi yang teliti, dapat dirasakan adanya krepitasi pada tulang kepala janin.
4.             Auskultasi
Baik memamakai setetoskop monoral maupun dengan Deptone akan terdengar DJJ.
5.             Reaksi kehamilan
Reaksi kehamilan baru negatif setelah beberapa minggu janin mati dalam kandungan.
6.             Rontgen Foto Abdomen
Ø Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah besar janin
Ø Tanda Nojosk : adanya angulasi yang tajam tulang belakang janin.
Ø Tanda Gerhard : adanya hiperekstensi kepala tulang leher janin
Ø Tanda Spalding : overlaping tulang-tulang kepala (sutura) janin
Ø Disintegrasi tulang janin bila ibu berdiri tegak
Ø Kepala janin kelihatan seperti kantong berisi benda padat.
7.             Ultrasonografi
Tidak terlihat DJJ dan gerakan-gerakan janin.

F.     Gejala
  1. Terhentinya pertumbuhan uterus, atau penurunan TFU
  2. Terhentinya pergerakan janin
  3. Terhentinya denyut jantung janin
  4. Penurunan atau terhentinya peningkatan berat badan ibu.
  5. Perut tidak membesar tapi mengecil dan terasa dingin
  6. Terhentinya perubahan payudara

G.    Penanganan
Ø  Bila disangka telah terjadi kematian janin dalam rahim, tidak usah terburu-buru bertindak, sebaiknya diobservasi dulu dalam 2-3 minggu untuk mencapai kepastian diagnosis.
Ø  Biasanya selama masih menunggu ini, 70-90% akan terjadi persalinan yang spontan.
Ø  Bila setelah 3 minggu kematian janin dalam kandungan atau 1 minggu setelah didiagnosis, partus belum mulai, maka wanita harus dirawat agar dapat dilakukan induksi partus.
Ø  Induksi partus dapat dimulai dengan pemberian estrogen untuk mengurangi efek progesteron atau langsung dengan pemberian oksitoxsin drip, dengan atau tanpa amniotomi.

H.       Komplikasi
Ø  Trauma emosional yang berat terjadi bila waktu antara kematian janin dan persalinan cukup bulan.
Ø  Dapat terjadi infeksi bila ketuban pecah.
Ø  Dapat terjadi koagulasi bila kematian janin berlangsung > 2 minggu.

I.          Asuhan Kebidanan
- berikan dukungan mental dan spiritual pada ibu.
- berikan Penkes tentang pemberian makanan yang bergizi
- berikan Penkes tentang personal hygine.
- beri penjelasan kepada ibu kehamilan berikutnya untuk ANC yang teratur
- lakukan rujukan untuk kuretase



















BAB III
PENUTUP

1.1              Kesimpulan
Persalinan prematur didefinisikan sebagai persalinan dengan batas kehamilan antara 26 minggu sampai 36 minggu
Kehamilan  postterm adalah kehamilan yang berlangsung > 40 minggu dihitung menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari.
Pertumbuhan janin terhambat ditentukan bila berat janin kurang dari 10% dari berat yang harus dicapai paa usia kehamilan tertentu.
Kematian Janin dalam kandungan adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan. Kematian janin dalam kandungan (KJDK) atau intra uterine fetal deadth (IUFD).

1.2              Saran
1.      Para tenaga kesehatan terutama seorang bidandiharapkan  memahami tentang kelainan lamanya kehamilan dan kematian janin.
2.      Bidan harus bisa mendeteksi kelainan lamanya kehamilan dan kematian janin, dan merujuk pasien ke tempat yang benar.
3.      Ibu hamil sebaiknya melakukan ANC rutin untuk dapat memantau adanya kelainan pada kehamilannya sedini mungkin.








DAFTAR PUSTAKA

Dikutip dari Buku Maternal dan Neonatal, 2002
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2000. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC
Arif Mansjoer Dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
Prawirohadjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka, Jakarta, Edisi keempat, 2008.
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC.
Chrisdiono M, Achadiat.2004.Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC