BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelainan dalam lamanya kehamilan yang meliputi
kelahiran prematur dan postmatur masih banyak terjadi di Indonesia.Hal ini
tentu saja disebabkan oleh berbagai sebab, dan membawa dampak yang cukup serius
bagi ibu dan janin yang ada di dalam kandungan ibu.
Sampai saat ini mortalitas dan morbiditas neonatus
pada bayi preterm/prematur masih sangat
tinggi. Hal ini berkaitan dengan maturitas pada organ – organ pada bayi baru
lahir seperti, paru, otak, dan gastrointestinal.Begitu pula pada kehamilan
postterm, kehamilan postterm sangat berpengaruh terutama bagi janin, hal ini
berkaitan dengan kurangnya makanan dan oksigen untuk janin.
Kelainan lain yang juga terjadi di Indonesia adalah
intra uterine fetal growth retardation atau yang akrab disebut pertumbuhan
janin terhambat. Pertumbuhan janin terhambat kini merupakan suatu entitas
penyakit yang membutuhkan perhatian bagi kalangan luas, karena dapat
menyebabkan kematian .dalam jangka panjang terdapat dampak berupa hipertensi,
stroke, diabetes, dan berbagai macam penyakit yang dapat dialami oleh janin
kelak. Hal ini disebut Barker hipotesis yaitu penyakit pada orang dewasa telah
terprogram sejak dalam uterus.
Dampak jangka pendek yang paling banyak ditemukan
akibat dari kelainan – kelainan di atas adalah kematian janin. Menurut WHO dan The American College of Obstetricians and
Gynecologist yang disebut kematian janin adalah janin yang mati di dalam
Rahim dengan berat 500 gram atau lebih atau kematian janin dalam Rahim dalam
usia kehamilan 20 minggu atau lebih.
1.2 Tujuan Penulisan
1.
Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah asuhan kebidanan IV sebagai salah
satu bagian dari proses belajar mengajar mahasiswi dan salah satu syarat
mengikuti Ujian Akhir Semester.
2.
Tujuan Khusus
Menambah
wawasan dan ilmu pengetahuan mahasiswi tentangkelainan lamanya kehamilan dan
kematian janin.
1.3 Ruang Lingkup
Seperti yang kita ketahuiKelainan
lamanya kehamilan dan kematian janin adalah kejadian yang sering ditemui oleh karena itu penulis
akan mencoba mengulas tentang
penyebab, pengelolaan, penanganan, dan pencegahan kelainan
lamanya kehamilan dan kematian janin.
1.4 Metode Penulisan
Dalam menyusun makalah ini penulis
menggunakan metode kepustakaan dan mengumpulkan bahan – bahan dari berbagai
sumber yang berhubungan dengan kelainan lamanya kehamilan dan kematian janin.
1.5 Sistematika Penulisan
Penulisan
makalah ini terdiri dari tiga bab yang disusun secara sistematika sebagai
berikut :
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
1.2 Tujuan
Penulis
1.3 Ruang
Lingkup
1.4 Metode
Penulisan
1.5 Sistematika
Penulisan
BAB
II TINJAUAN MATERIKelainan lamanya kehamilan
2.1.1
Persalinan
prematur
A.
Epidiomologi
B.
Definisi
C.
Etiologi
D.
Patofisiologi
E.
Diagnosa
F.
Gejala
G.
Penanganan
H.
Komplikasi
I.
Asuhan Kebidanan
2.1.2 Kehamilan Postmatur
A.
Epidiomologi
B.
Definisi
C.
Etiologi
D.
Patofisiologi
E.
Diagnosa
F.
Gejala
G.
Penanganan
H.
Komplikasi
I.
Asuhan Kebidanan
2.1.3
IUGR
A.
Epidiomologi
B.
Definisi
C.
Etiologi
D.
Patofisiologi
E.
Diagnosa
F.
Gejala
G.
Penanganan
H.
Komplikasi
I.
Asuhan Kebidanan
2.1.4
IUFD
A.
Epidiomologi
B.
Definisi
C.
Etiologi
D.
Patofisiologi
E.
Diagnosa
F.
Gejala
G.
Penanganan
H.
Komplikasi
I.
Asuhan Kebidanan
BAB
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN MATERI
2.1 Kelainan
lamanya kehamilan
2.1.1
Persalinan premature
A. Epidiomologi
Badan kesehatan dunia (WHO) bekerja sama
dengan March of Dimes, lembaga sosial dari Amerika Serikat yang memiliki misi
mencegah bayi lahir prematur dan cacat melaporkan setiap tahun diperkirakan 13
juta bayi lahir secara prematur di seluruh dunia dan satu juta bayi meninggal
dunia.
Kelahiran
bayi prematur ini paling banyak terjadi di negara miskin dan berkembang,
terutama di Afrika dan Asia. Jumlah tertinggi ada di Afrika dan diikuti dengan
Amerika Utara.
Di Indonesia
Setiap tahun
diperkirakan lahir sekitar 350.000 bayi prematur atau berat badan lahir rendah
di Indonesia. Tingginya kelahiran bayi prematur tersebut karena saat ini ada 30
juta perempuan usia subur yang kondisinya kurang energi kronik dan sekitar 50
persen ibu hamil mengalami anemia defisiansi gizi.
Tingginya
prevelansi berat badan lahir rendah (BBLR) umumnya karena dari ibu hamil yang
kurang gizi. Akibatnya, pertumbuhan janin terganggu sehingga berisiko lahir
dengan berat di bawah 2.500 gram. Di Indonesia, diperkirakan prevelansi BBLR
mencapai 7-14 persen, bahkan pada beberapa kabupaten mencapai 16 persen.
Padahal, berdasarkan simposium Low Birth Weight di Dhaka, Banglades, tingkat
indikasi BBLR lebih dari 15 persen dimaknai adanya masalah kesehatan masyarakat
yang penting dan serius.
Status gizi
ibu hamil yang rendah ini sebenarnya ditentukan jauh sebelum terjadi kehamilan,
yaitu selama masa kanak-kanak hingga dewasa. Dilaporkan sekitar 50 persen
anak-anak yang kurang gizi adalah perempuan. Bayi prematur yang hidup banyak
menderita gangguan kognitif dan neurologis. Selain itu, juga berisiko terhadap
penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus, jantung, dan stroke.
Bayi disebut
lahir prematur jika usia kehamilan ibu kurang dari 37 minggu, sedangkan
kelahiran dianggap normal jika usia kehamilan mencapai 37-40 minggu. Bayi yang
lahir prematur berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan. Namun, fasilitas
perawatan yang sangat lengkap, seperti yang dimiliki rumah sakit di negara
kaya, akan memperbesar peluang bayi prematur untuk bertahan hidup.
B.
Definisi
Persalinan
prematur didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan
lengkap 37 minggu atau 259 hari kehamilan (Beck, 2010).
Persalinan prematur adalah
persalinan yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu (Goldenberg,
2008).
Persalinan prematur adalah
persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20 minggu
sampai kurang dari 37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram
(Prawirohardjo, 2007).
Persalinan
prematur adalah persalinan yang terjadi
ketika usia kehamilan belum mencapai 37 minggu.
Persalinan prematur merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian karena
menjadi salah satu penyebab utama kematian neonatal. Persalinan prematur
menjadi penyebab tingginya angka kematian bayi karena kondisi bayi yang masih
lemah. Bayi yang lahir prematur juga memiliki risiko tinggi memiliki cacat
neurologis bawaan, termasuk cerebral palsy, cacat penglihatan dan gangguan
kecerdasan, terutama bila usia kehamilan di bawah 32 minggu. Bayi tersebut juga
berisiko tinggi untuk masalah kesehatan jangka panjang, termasuk penyakit
kardiovaskular (serangan jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi) dan
diabetes. (http://majalahkesehatan.com/sekilas-tentang-persalinan-prematur/)
C. Etiologi
1. Rahim yang berkembang terlalu cepat karena ada lebih
dari satu janin di dalamnya atau karena jumlah air ketuban terlalu banyak
2. Inkompetensi leher rahim (leher rahim tidak menutup
dengan rapat)
3. Pecahnya membran yang menahan air ketuban (pecah
ketuban) terlalu dini
4. Infeksi saluran kencing pada ibu
5. Ibu bekerja terlalu keras, mengalami stress, menderita
anemia atau kurang gizi.
D. Patofisiologi
Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor resiko mayor
atau minor. Faktor resiko minor ialah penyakit yang disertai demam, perdarahan
pervaginam pada kehamilan lebih dari 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok
lebih dari 10 batang perhari, riwayat abortus pada trimester II, riwayat
abortus pada trimester I lebih dari 2 kali.
Faktor resiko
mayor adalah kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka
lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar atau memendek kurang
dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih
dari 1 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada
kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus.
Pasien
tergolong resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor resiko mayor atau
bila ada 2 atau lebioh resiko minor atau bila ditemukan keduanya. (Kapita
selekta, 2000 : 274)
D.
Diagnosis
Sering
terjadi kesulitan dalam menentukan diagnosis ancaman persalinan preterm. Tidak
jarang kontraksi yang timbul pada kehamilan tidak benar – benar merupakan
ancaman proses persalinan. Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai ancaman
persalinan preterm, yaitu:
1. Kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7 – 8 menit
sekali atau 2 – 3 kali dalam waktu 10 menit
2. Adanya nyeri pada punggung bawah ( low back pain )
3. Perdarahan bercak
4. Perasaan menekan daerah serviks
5. Pemeriksaan serviks menunjukkan telah terjadi
pembukaan sedikitnya 2 cm, dan penipisan 50 – 80%
6. Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina
ischiadika
7. Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal
terjadinya persalinan preterm
8. Terjadi pada usia kehamilan 22 – 37 minggu.
(http://mahdalenaendang.blogspot.com/2012/06/makalah-prematur.html)
E.
Gejala
1.
Kontraksi setiap
10 menit atau lebih sering dalam satu jam (lima atau lebih kontraksi rahim dalam
satu jam)
2.
Kram seperti
menstruasi yang dirasakan di perut bagian bawah yang terjadi terus-menerus atau
hilang-timbul. Kram perut ini bisa terjadi dengan atau tanpa diare
3.
Nyeri punggung
bawah yang terasa di bawah pinggang yang terjadi terus-menerus atau
hilang-timbul
4.
Tekanan panggul
yang terasa seperti bayi mendorong ke bawah
F.
Penanganan
Menjadi pemikiran pertama pada pengelolaan persalinan
preterm adalah : apakah ini memenga persalinan preterm. Selanjutnya mencari
penyebabnya dan menilai kesejahteraan janin yang dapat dilakukan secara klinis,
laboratoris, ataupun ultrasonografi meliputi pertumbuhan/berat janin, jumlah
dan keadaan cairan amnion, presentasi dan keadaan janin/ kelainan kongenital.
Bila proses persalinan kurang bulan masih tetap berlangsung atau mengancam,
meski telah dilakukan segala upaya pencegahan, maka dipertimbangkan :
1.
Seberapa
bear kemampuan (dokter spesialis kebidanan, dokter spesialis kesehatan anak,
peralatan) untuk menjaga kehidupan bayi preterm atau berapa persen yang akan
hidup menurut berat dan usia gestasi tertentu.
2.
Bagaiman
persalinan berakhir
3.
Komplikasi
yang akan timbul, misalnya perdarahan otak, atau sindroma gawat napas
4.
Pendapat
pasien dan keluarga
5.
Dana
yang diperlukan
Manajemen persalinan preterm bergantung pada beberapa
faktor :
1.
Keadaan
selaput ketuban. Pada umumnya persalinan tidak dihambat bilamana selaput ketuban
sudah pecah.
2.
Pembukaan
serviks. Persalinan akan sulit dicegah bila pembukaan telah mencapai 4 cm.
3.
Umur
kehamilan. Makin muda kehamilan, upaya pencegahan makin perlu dilakukan.
4.
Penyebab
atau komplikasi persalinan preterm
5.
Kemampuan
neonatal intensive care facilities
Beberapa langkah yag dapat dilakukan pada persalinan
preterm, terutama mencegah morbiditas dan mortalitas neonatus preterm adalah :
1.
Menghambat
proses persalinan preterm dengan memberikan tokolisis
2.
Pematangan
surfaktan paru janin dengan kortikosteroid, dan
3.
Bila
perlu dilakukan pencegahan terhadap infeksi.
G.
Komplikasi
1. Sindroma gawat pernafasan (penyakit membran hialin).
Paru-paru yang matang sangat penting bagi bayi baru
lahir.Agar bisa bernafas dengan bebas, ketika lahir kantung udara (alveoli)
harus dapat terisi oleh udara dan tetap terbuka.Alveoli bisa membuka lebar
karena adanya suatu bahan yang disebut surfaktan, yang dihasilkan oleh
paru-paru dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan.
Bayi prematur seringkali tidak menghasilkan surfaktan
dalam jumlah yang memadai, sehingga alveolinya tidak tetap terbuka.Diantara
saat-saat bernafas, paru-paru benar-benar mengempis, akibatnya terjadi Sindroma
Distres Pernafasan.
Sindroma ini bisa menyebabkan kelainan lainnya dan
pada beberapa kasus bisa berakibat fatal.Kepada bayi diberikan oksigen; jika
penyakitnya berat, mungkin mereka perlu ditempatkan dalam sebuah ventilator dan
diberikan obat surfaktan (bisa diteteskan secara langsung melalui sebuah selang
yang dihubungkan dengan trakea bayi).
2. Ketidakmatangan pada sistem saraf pusat bisa
menyebabkan gangguan refleks menghisap atau menelan, rentan terhadap terjadinya
perdarahan otak atau serangan apneu.
Selain paru-paru yang belum berkembang, seorang bayi
prematur juga memiliki otak yang belum berkembang.Hal ini bisa menyebabkan
apneu (henti nafas), karena pusat pernafasan di otak mungkin belum matang.Untuk
mengurangi mengurangi frekuensi serangan apneu bisa digunakan obat-obatan.
Jika oksigen maupun aliran darahnya terganggu.otak
yang sangat tidak matang sangat rentan terhadap perdarahan (perdarahan
intraventrikuler).atau cedera .
3. Ketidakmatangan sistem pencernaan menyebabkan
intoleransi pemberian makanan.Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil
mungkin akan membatasi jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian
susu yang terlalu banyak dapat menyebabkan bayi muntah.Pada awalnya, lambung
yang berukuran kecil mungkin akan membatasi jumlah makanan/cairan yang
diberikan, sehingga pemberian susu yang terlalu banyak dapat menyebabkan bayi
muntah.
4. Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan
(fibroplasia retrolental).
5. Displasia bronkopulmoner.
6. Penyakit jantung.
7. Jaundice.
Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi
usus yang normal untuk membuang bilirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan
sel darah merah) dalam tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang
lahir prematur, memiliki kadar bilirubin darah yang meningkat (yang bersifat
sementara), yang dapat menyebabkan sakit kuning (jaundice).
Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih
belum matang dan karena kemampuan makan dan kemampuan mencernanya masih belum
sempurna. Jaundice kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang sejalan
dengan perbaikan fungsi pencernaan bayi.
8. Infeksi atau septikemia.
Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang
sempurna.Mereka belum menerima komplemen lengkap antibodi dari ibunya melewati
plasenta (ari-ari).
Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis) pada
bayi prematur lebih tinggi.Bayi prematur juga lebih rentan terhadap
enterokolitis nekrotisasi (peradangan pada usus).
9. Anemia
10. Bayi prematur cenderung memiliki kadar gula darah yang
berubah-ubah, bisa tinggi (hiperglikemia maupun rendah (hipoglikemia)
11. Perkembangan dan pertumbuhan yang lambat.
12. Keterbelakangan mental dan motorik.
H. Asuhan Kebidanan
·
Memberi nutrisi. Memberi kebutuhan
nutrisi pada ibu berupa makanan dan minuman.
·
Memantau dan mengukur tanda-tanda vital.
·
Memberikan lingkungan yang baik agar
bayi tetap hangat (suhu bayi harus 36°C – 37°C) dengan memasukkan bayi kedalam
inkubator.
·
Menjaga agar saluran nafas bagian atas
tetap bebas dengan memperhatikan posisi bayi dan pengisapan lendir jalan nafas
secara berkala.
·
Ajarkan dan anjurkan ibu untuk bergerak
sedikit, miring ke kiri dan kanan, duduk dan berjalan (mobilisasi dini).
·
Anjurkan ibu untuk makan dan minum.
·
Libatkan suami dan keluarga dalam
perawatan ibu.
2.1.2
Kehamilan Postmatur
A.
Epidiomologi
Kehamilan
serotinus adalah kehamilan yang berlangsung 42 minggu atau lebih. Istilah yang
lebih sering dipakai adalah postmaturitas, postdatism, atau postdates.
Kira-kira 10% kehamilan berlangsung terus sampai 42 minggu, 4% berlanjut sampai
usia 43 minggu. (FKUP,2005)
Angka
kejadian kehamilan lewat bulan atau serotinus kira-kira 10%, berfariasi antara
3,5-14%. Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat
waktuu lebih tinggi daripada dalam kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian
kehamilan lewat waktu mencapai 5-7% variasi insiden posterem berkisar antara
2-31,37%.
Leveno
melaporkan bahwa dari 727 kehamilan lewat bulan, sekitar 63% dengan umur
kehamilan 42-43 minggu, 31% umur kehamilan 43-44 minggu dan 6% pada kehamilan
lebih dari 44 minggu.
B.
Definisi
Kehamilan post term adalah kehamilan yang berlangsung
> 40 minggu dihitung menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28
hari. Kehamilan post matur menurut Prof.Dr. dr. Sarwono
Prawirohardjo adalah kehamilan yang melewati 294 hari
atau lebih dari 42 minggu
lengkap dihitung dari HPHT.
C.
Etiologi
Etiologi
pasti belum diketahui. Beberapa teori yang dikemukakan:
I.
Penurunan
kadar estrogen
Pada kehamilan normal kadar estrogen umumnya
tinggi,dan dengan usia kehamilan yang makin bertambah menyebabkan membran janin
khususnya menjadi kaya akan dua jenis glikofosdfolipid yaitu fosfatililinosipol
dan fosfatililetinolamin, yang keduanya mengandung arakidonat pada posisi-sn-2.
Janin manusia tampaknya memicu persalinan melalui mekanisme tertentu yang belum
dipahami dengan jelas, sehingga terjadi pemecahan arakidonat dari kedua senyawa
glikofosfolipid ini , dengan demikian arakidonat tersedia untuk konversi
menjadi PGE-2 dan PGE-2 yang selanjutnya akan menstimulasi penipisan serviks
dan kontraksi ritmik uterus yang menjadi ciri khas persalinan normal.
Kadar Progesteron yang tidak cepat turun walaupun
kehamilan telah cukup bulan, sehingga uterus kurang peka terhadap oksitosin
II.
Faktor
stress
Nwosu dkk.menemukan perbedaan dalam rendahnya kadar
kortisol dalam darah bayi sehingga disimpulkan kerentanan terhadap steress
merupakan faktor tidak timbulnya his selain kurangnya air ketuban dan
insufisiensi plasenta.
D. Patofisiologi
1) Sindrom
posmatur
Bayi
postmatur menunjukan gambaran yang khas, yaitu berupa kulit keriput, mengelupas
lebar-lebar, badan kurus yang menunjukan pengurasan energi, dan maturitas
lanjut karena bayi tersebut matanya terbuka. Kulit keriput telihat sekali pada
bagian telapak tangan dan telapak kaki. Kuku biaanya cukup panjang. Biasanya
bayi postmatur tidak mengalami hambatan pertumbuhan karena berat lahirnya
jarang turun dibawah persentil ke-10 untuk usia gestasinya.banyak bayi
postmatur Clifford mati dan banyak yang sakit berat akibat asfiksia lahir dan
aspirasi mekonium. Berapa bayi yang bertahan hidup mengalami kerusakan otak.
Insidensi
sindrom postmaturitas pada bayi berusia 41, 42, dan 43 minggu masing-masing
belum dapat ditentukan dengan pasti. Syndrome ini terjadi pada sekitar 10 %
kehamilan antara 41 dan 43 minggu serta meningkat menjadi 33 % pada 44 minggu.
Oligohidramnion yang menyertainya secara nyata meningkatkan kemungkinan
postmaturitas.
2) Disfungsi
plasenta
Kadar eritroprotein plasma tali pusat meningkat secara
signifikan pada kehamilan yang mencapai 41 minggu atau lebih dan meskipun tidak
ada apgar skor dan gas darah tali pusat yang abnormal pada bayi ini,
bahwa terjadi
penurunan oksigen pada janin yang sudah posterm.
Janin posterm mungkin terus bertambah berat badannya sehingga bayi tersebut
luar biasa beras pada sat lahir. Janin yang terus tumbuh menunjukan bahwa
fungsi plasenta tidak terganggu. Memang, pertumbuhan janin yang berlanjut,
meskipun kecepatannya lebih lambat, adalah cirri khas gestasi antara 38 dan 42
minggu.
3) Gawat
janin dan Oligohidramnion
Alasan utama meningkatnya resiko pada janin posterm adalah
bahwa dengan diameter tali pusat yang mengecil, diukur dengan USG, bersifat
prediktif terhadap gawat janin intrapartum, terutama bila disertai dengan ologohidramnion.
Penurunan volume cairan amnion biasanya terjadi ketika kehamilan telah melewati
42 minggu, mungkin juga pengeluaran mekonium oleh janin ke dalam volume cairan
amnion yang sudah berkurang merupakan penyebab terbentuknya mekonium kental
yang terjadi pada sindrom aspirasi mekonium.
4) Pertumbuhan
janin terhambat
Hingga
kini, makna klinis pertumbuhan janin terhambat pada kehamilna yang seharusnya
tanpa komplikasi tidak begitu diperhatikan. Divon dkk,. (1998) dan Clausson.,
(1999) telah menganalisis kelahiran pada hampir 700.000 wanita antara 1987
sampai 1998 menggunakan akte kelahiran medis nasional swedia. Bahwa pertumbuhan
janin terhambat menyertai kasus lahir mati pada usia gestasi 42 minggu atau
lebih, demikian juga untuk bayi lahir aterm.
Morniditas
dan mortalitas meningkatkan secara signifikan pada bayi yang mengalami hambatan
pertumbuhan. Memang, seperempat kasus lahir mati yang terjadi pada kehamilan
memanjang merupakan bayi-bayi dengan hambatan pertumbuhan yang jumlahnya
relatif kecil ini.
5) Serviks
yang tidak baik
Sulit untuk menunjukan seriks yang tidak baik pada
kehamilan memanjang karena pada wanita dengan umur kehamilan 41 minggu
mempunyai serviks yang belum berdilatasi. Dilatasi serviks adalah indicator
prognostic yang penting untuk keberhasilan induksi dalam persalinan.
E. Diagnosa
Dengan mengetahui hari pertama menstruasi maka kita
akan dapat menentukan:
·
Perhitungan
kemungkinan waktu persalinan menurut Naegle
·
Hasil
pemeriksaan antenatal berupa :
§ Janin besar untuk masa kehamilan (BMK)
§ Janin kecil untuk masa kehamilan (KMK)
§ Janin sama besarnya untuk masa kehamilan (SMK)
·
Melalui
perkiraan tahap aktivitas janin dalam rahim yang (sudah baku)
·
Perbandingan
dengan orang lain yang sudah bersalin
·
Menggunakan
ultrasonografi untuk memperkirakan berat, waktu persaliunan, menentukan
biofisik profil janin, kesejahteraan intraureti. USG, Ukuran diameter
bipariental, gerakan janin dan jumlah air ketuban
·
Pemeriksaan
rontgenologik, dapat dijumpai pusat-pusat penulangan pada bagian distal femur,
bagian proksimal tibia, tulang kuboid, diameter bipariental 9,8 cm atau lebih.
·
Pemeriksaan
sitologik air ketuban : air ketuban diambil dengan amniosentesis, baik
transvaginal maupun transabdominal. Air ketuban akan bercampur lemak dari
sel-sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36
minggu. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru nil maka sel-sel
yang mengandung lemak akan berwarna jingga. Bila :
§ Melebihi 10% : kehamilan di atas 36 minggu
§ Melebihi 50% : kehamilan di atas 39 minggu
·
Amnioskopi
: melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurut warnanya karena dikeruhi
mekonium.
·
Kardiotografi
: mengawasi dan membaca DJJ, karena insufiensi plasenta
·
Uji
Oksitosin (stress test) : yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi
janin terhadap kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik, hal
ini mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan.
·
Pemeriksaan
kadar estriol dalam urin
·
Pemeriksaan
PH darah kepala janin
·
Pemeriksaan
sitologi vagina
(Menurut Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Jilid I,
1998)
Kita
sering kali sukar menetapkan diagnosis kehamilan sirotinus,khususnya di Negara
berkembang tetapi dapat di gunakan beberapa Kriteria berikut:
1. Detak jantung Janin mulai terdengar
2. Fondoskop pada minggu 18
3. Dopller pada minggu 12
4. Quickening terasa mulai minggu 18
5. Fundus uteri setinggi pusat pada minggu 20
6. Dendang memeriksakan USG perkiraan usui kehamilan akan
lebih tepat untuk kehamilan trimester I dan II, sedangkan pada Trimester III
sering kurang cepat. Kenyataan ini sering terjadi oleh karena pertumbuhan janin
dalam rahim tidak tetap artinya bukan merupakan pertumbuhan linier.
Perubahan
yang mendasar yang terjadi pada kehamilan sirotinus atau postmatur bersumber
dari kemampuan plasenta untuk memberikan nutrisi dan oksigen serta kemampuan
fungsi lainya, dan dapat menyebabkan keadaan sebagai berikut:
1. Jika fungsi plasenta masih cukup baik dapat
menyebabkan:
2. Tumbuh kembang janin berlangsung terus,sehingga berat
badan terus bertambah sekalipun lambat,dapt mencapai lebih dari 4000-4500gr
yang di sebut dengan bayi makrosomia.
Bayi postmaturel
hipermaturel dengan kriteria:
·
Mungkin
dengan berat badsan yang besar atau makrosomia
·
Kuku
panjang
·
Penulangan
baik
·
Tulang
rawan telinga sudah cukup
·
Pertumbuhan
genetalia sekunder sudah ada
·
Mata
besar dan terbuka
·
Jika
fungsi plasenta telah mengalami disfungsi atau insufisiensi, sehingga tidak
mampu mamberikan nutrisi dan oksigen yang cukup,akan terjadi sebaliknya dan di
sebut sebagai sindron postmature dengan criteria berikut:
§ Bayi tampak tua
§ Kuku panjang
§ Lipid kulit berkurang sehingga menimbulkan keriput
terutama di kulit tangan dan kaki
§ Matanya lebar bahkan sudah terbuka
§ Verniks caseosa telah hilangatau berkurang
Diagnosis bayi postmatur pascapersalinan, dengan
memperhatikan tanda-tanda postmaturitas yang dapat dibagi dalam 3 stadium :
1.
Stadium
I : kulit tampak kering, rapuh dan mudah mengelupas(maserasi), verniks
kaseosa sangat sedikit
sampai tidak ada.
2.
Stadium
II : keadaan kulit seperti stadium I disertai dengan pewarnaan kulit yang
kehijauan oleh mekoneum yang bercampur air ketuban.
3.
Stadium
III : terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku dan kulit janin serta pada
jaringan tali pusat.Pada saat persalinan, penting dinilai keadaan cairan
ketuban. Jika telah terjadi pewarnaan mekonium (kehijauan) atau bahkan
pengentalan dengan warna hijau kehitaman, begitu bayi lahir harus segera
dilakukan resusitasi aktif. Idealnya langsung dilakukan intubasi dan pembilasan
trakhea.
F.
Gejala
Gambaran
fisik bayi post-matur:
Ø Panjangnya
cukup umur, tetapi berat badannya rendah sehingga tampak kurus
Ø Matang,
berada dalam keadaan siaga
Ø Lemak
di bawah kulitnya sedikit sehingga kulit pada lengan dan tungkainya tampak
menggelambir
Ø Kulitnya
kering dan mengelupas
Ø Kuku
jari kaki dan kuku jari tangannya panjang
Ø Kuku
jari kaki, kuku jari tangan dan pusarnya berwana kehijauan atau kecoklatan
karena mekonium
(tinja pertama bayi).
G. Penanganan
Ø Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting
adalah monitoring janin sebaik-baiknya.
Ø Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiense plasenta,
persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat
Ø Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan
serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau
tanpa amniotomi.Bila :
·
Riwayat
kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam Rahim
·
Terdapat
hipertensi, pre-eklampsia
·
Kehamilan
ini adalah anak pertama karena infertilitas
·
Pada
kehamilan > 40-42 minggu
Maka ibu dirawat di rumah sakit :
Ø Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan
pada
Ø Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum
matang
Ø Pembukaan yang belum lengkap,
Ø persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau pada
primigravida tua,
Ø kematian janin dalam kandungan,
Ø pre-eklampsia,
Ø hipertensi menahun,
Ø anak berharga (infertilitas) dan
Ø kesalahan letak janin.
Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa
partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar dan
kemungkinan diproporsi sefalo-pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan.
Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedatif dan narsoka, jadi
pakailah anestesi konduksi.
H.
Komplikasi
Kemungkinan komplikasi pada bayi postmatur
hipoksia ;
1. Hipovolemia
2. Asidosis
3. Sindrom gawat napas
4. Hipoglikemia
5. Hipofungsi adrenal.
Persalinan janin makrosomia pervaginam akan
menimbulkan trauma pada bayi dan maternal yang makin tinggi
·
Komplikasi
trauma pada janin atau bayi
·
Asfiksia
karena terlalu lama terjepit
Truma akibat tindakan oprasi yang di lakukan
pervaginam dengan bentuk trias komplikasi:
·
Infeksi
·
Asfiksia
·
Trauma
langsung dan perdarahan
·
Komplikasi
maternal “trias komplikasi”
Trauma langsung persalinan pada jalan lahir:
·
Robekan
luas
·
Fistula
rekto-vasiko vaginal
·
Ruptura
perineum tingkat lanjut
·
Infeksi
karena terbukanya jalan halir secara luas senghingga mudah terjadi kontaminasi
bacterial.
Perdarahan:
·
Trauma
langsung jalan lahir
·
Atonia
uteri
·
Retentio
Plasenta
I.
Asuhan
Kebidanan
1.
Jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu
Supaya Ibu mengerti keadaannya.
2.
Pasien tidur miring sebelah kiri
3.
Pergunakan pemantauan elektronik jantung janin
4.
Beri oksigen bila ditemukan keadaan jantung yang
abnormal
5.
Perhatikan jalannya persalinan
6.
Segera setelah lahir, bayi harus segera diperiksa
terhadap kemungkinan hipoglikemi, hipovolemi, hipotermi dan polisitemi
7.
Anjurkan Ibu untuk melakukan persalinan
di rumah sakit agar Ibu mendapatkan pertolongan persalinan yang adekuat.
8.
Rujuk Ibu ke Rumah Sakit agar Ibu
mendapatkan pertolongan persalinan oleh tenaga yang lebih ahli
(Dikutip dari Buku Maternal dan
Neonatal, 2002)
1.1.3
Pertumbuhan
Janin
terhambat
(IUGR)
A.
Epidiomologi
Di negara berkembang angka PJT
kejadian berkisar antara 2%-8% pada bayi dismature, pada bayi mature 5% dan
pada postmature 15%. Sedangkan angka kejadian untuk SGA adalah 7% dan 10%-15%
adalah janin dengan PJT.(5,6)
Pada 1977, Campbell dan Thoms
memperkenalkan ide pertumbuhan simetrik dan pertumbuhan asimetrik. Janin yang
kecil secara simetrik diperkirakan mempunyai beberapa sebab awal yang global
(seperti infeksi virus, fetal alcohol
syndrome). Janin yang kecil
secara asimetrik diperkirakan lebih kearah kecil yang sekunder karena pengaruh
restriksi gizi dan pertukaran gas. Dashe dkk mempelajari hal tersebut diantara
1364 bayi PJT (20% pertumbuhan asimetris, 80% pertumbuhan simetris) dan 3873
bayi dalam presentil 25-75 (cukup untuk usia kehamilan). Tabel memperlihatkan
daftar statistik yang signifikan pada kejadian dan hasil perinatal diantara
kelompok tersebut.(7)
ss
Kejadian dan hasil perinatal :
|
Kejadian
|
PJTAsimetris
|
PJTSimetris
|
Sesuai
usia gestasi
|
|
Anomalies
|
14%
|
4%
|
3%
|
|
Morbiditas
tidak serius
|
86%
|
95%
|
95%
|
|
Induksi
persalinan (<36 wk)
|
12%
|
8%
|
5%
|
|
Tekanan
darah tinggi dalam kehamilan (<32 wk)
|
7%
|
2%
|
1%
|
|
Intubasi
dalam VK
|
6%
|
4%
|
3%
|
|
Neonatal
ICU
|
18%
|
9%
|
7%
|
|
Respiratory
distress syndrome
|
9%
|
4%
|
3%
|
|
Perdarahan
intraventrikular(grade III atau IV)
|
2%
|
<1%
|
<1%
|
|
Kematian
Neonatal
|
2%
|
1%
|
1%
|
|
Usia
gestasi saat persalinan
|
36.6 mgg ±
3.5 mgg
|
37.8 mgg ±
2.9 mgg
|
37.1 mgg ±
3.3 mgg
|
|
Kelahiran
preterm <32 mgg
|
14%
|
6%
|
11%
|
B.
Definisi
Pertumbuhan janin terhambat ditentukan bila berat
janin kurang dari 10% dari berat yang harus dicapai paa usia kehamilan
tertentu. Biasanya perkembangan yang terhambat diketahui setelah 2 minggu tidak
ada pertumbuhan.
C.
Etiologi
·
Faktor
ibu, golongan faktor ibu merupakan penyebab yang terpenting
ü Penyakit hipertensi (kelainan vaskular ibu).
ü Kelainan uterus.
ü Kehamilan kembar.
ü Ketinggian tempat tinggal.
ü Keadaan gizi.
ü Perokok.
Pada
trimester kedua terdapat kelanjutan migrasi interstitial dan endotelium
trophoblas masuk jauh ke dalam arterioli miometrium sehingga aliran menjadi
tanpa hambatan menuju retroplasenter sirkulasi dengan tetap.Aliran darah yang
terjamin sangat penting artinya untuk tumbuh kembang janin dengan baik dalam
uterus.Dikemukakan bahwa jumlah arteri-arterioli yang didestruksi oleh sel
trophoblas sekitar 100-150 pada daerah seluas plasenta sehingga cukup untuk
menjamin aliran darah tanpa gangguan pada lumen dan arteri spiralis terbuka.
Gangguan terhadap jalannya destruksi sel trophoblas ke
dalam arteri spiralis dan arteriolinya dapat menimbulkan keadaan yang bersumber
dari gangguan aliran darah dalam bentuk “iskemia retroplasenter”. Dengan
demikian dapat terjadi bentuk hipertensi dalam kehamilan apabila gangguan
iskemianya besar dan gangguan tumbuh kembang janin terjadi apabila iskemia
tidak terlalu besar, tetapi aliran darah dengan nutrisinya merupakan masalah
pokok.Janin yang tumbuh di luar uterus biasanya mengalami hambatan
pertumbuhan.
Kehamilan dengan dua janin atau lebih kemungkinan
besar dipersulit oleh pertumbuhan kurang pada salah satu atau kedua janin
dibanding dengan janin tunggal normal.Hambatan pertumbuhan dilaporkan terjadi
pada 10 s/d 50 persen bayi kembar.Jika terpajan pada lingkungan yang hipoksik
secara kronis, beberapa janin mengalami penurunan berat badan yang
signifikan.Janin dari wanita yang tinggal di dataran tinggi biasanya mempunyai
berat badan lebih rendah daripada mereka yang dilahirkan oleh ibu yang tinggal
di dataran rendah.
Wanita
kurus cenderung melahirkan bayi kecil, sebaliknya wanita gemuk cenderung
melahirkan bayi besar.Agar nasib bayi baru lahir menjadi baik, ibu yang kurus
memerlukan kenaikan berat badan yang lebih banyak dari pada ibu-ibu yang gemuk
dalam masa kehamilan.Faktor terpenting pemasukan makanan adalah lebih utama
pada jumlah kalori yang dikonsumsi setiap hari dari pada komposisi dari
kalori.Dalam masa hamil wanita keadaan gizinya baik perlu mengkonsumsi 300
kalori lebih banyak dari pada sebelum hamil setiap hari.
Penambahan
berat badan yang kurang di dalam masa hamil menyebabkan kelahiran bayi dengan
berat badan yang rendah.
Kebiasaan
merokok terlebih dalam masa kehamilan akan melahirkan bayi yang lebih kecil
sebesar 200 sampai 300 gram pada waktu lahir. Kekurangan berat badan lahir ini
disebabkan oleh dua faktor yaitu :
ü
wanita
perokok, cenderung makan sedikit karena itu ibu akan kekurangan substrat di
dalam darahnya yang bisa dipergunakan oleh janin,
ü
merokok
menyebabkan pelepasan epinefrin dan norepinefrin yang menyebabkan
vasokonstriksi yang berkepanjangan
sehingga terjadi pengurangan jumlah
pengaliran darah kedalam uterus dan yang sampai ke dalam ruang
intervillus.
v
Faktor
anak.
ü
Kelainan
kongenital.
ü
Kelainan
genetic
ü
Infeksi janin,
misalnya penyakit TORCH
(toksoplasma, rubela,
sitomegalovirus, dan herpes).
Infeksi intrauterin adalah penyebab lain
dari hambatan pertumbuhan intrauterin.
Banyak tipe seperti pada infeksi oleh TORCH (toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus,
dan herpes simplex) yang bisa menyebabkan hambatan pertumbuhan intrauterin
sampai 30% dari kejadian.
Infeksi AIDS pada ibu hamil menurut laporan bisa
mengurangi berat badan lahir bayi sampai 500 gram dibandingkan dengan bayi-bayi
yang lahir sebelum terkena infeksi itu. Diperkirakan infeksi intrauterin
meninggikan kecepatan metabolisme pada janin
tanpa kompensasi peningkatan transportasi
substrat oleh plasenta sehingga
pertumbuhan janin menjadi subnormal atau dismatur.
v
Faktor
plasenta
Penyebab faktor plasenta dikenal sebagai insufisiensi
plasenta.Faktor plasenta dapat dikembalikan pada faktor ibu, walaupun begitu
ada beberapa kelainan plasenta yang khas seperti tumor plasenta. Sindroma insufisiensi fungsi plasenta umumnya berkaitan erat dengan
aspek morfologi dari plasenta.
Pengertian dasar dari sindroma insufisiensi plasenta
menunjukkan adanya satu kondisi kegawatan janin yang bisa nyata selagi masih
dalam masa kehamilan (insufisiensi kronik) atau dalam masa persalinan
(insufisiensi akut) sebagai akibat
gangguan pada fungsi plasenta. Dipandang dari sudut
kepentingan janin sebuah plasenta mempunyai fungsi-fungsi yaitu :
respirasi, nutrisi, ekskresi,
sebagai liver sementara (transient fetal
liver), endokrin dan sebagai gudang
penyimpanan dan pengatur fungsi metabolisme.
Dalam klinis
fungsi ganda ini tidak dapat dipisah-pisahkan dengan nyata, yang dapat dikenal
hanyalah tanda-tanda kegagalan keseluruhannya yang bisa nyata dalam masa hamil
dan menyebabkan hambatan pertumbuhan intrauterin atau kematian intrauterin,
atau menjadi nyata dalam waktu persalinan dengan timbulnya gawat janin atau
hipoksia janin dengan segala akibatnya.
D.
Patofisiologi
a. Kondisi
kekurangan nutrisi pada awal kehamilan
Pada
kondisi awal kehamilan pertumbuhan embrio dan trofoblas dipengaruhi oleh
makanan. Studi pada binatang menunjukkan bahwa kondisi kekurangan nutrisi
sebelum implantasi bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan
nutrisi pada awal kehamilan dapat mengakibatkan janin berat lahir rendah yang
simetris. Hal sebaiknya terjadi kondisi percepatan pertumbuhan pada kondisi
hiperglikemia pada kehamilan lanjut
b. Kondisi
kekurangan nutrisi pada pertengahan kehamilan
Defisiensi
makanan mempengaruhi pertumbuhan janin dan plasenta, tapi bisa juga terjadi
peningkatan pertumbuhan plasenta sebagai kompensasi. Didapati ukuran plasenta
yang luas.
c. Kondisi
kekurangan nutrisi pada akhir kehamilan
Terjdi pertumbuhan janin yang lambat
yang mempengaruhi interaksi antara j anin
dengan plasenta. Efek kekurangan makan
tergantung pada lamanya kekurangan. Pada kondisi akut terjadi perlambatan
pertumbuhan dan kembali meningkat jika nutrisi yang diberikan membaik. Pada
kondisi kronis mungkin telah terjadi proses perlambatan pertumbuhan yang
irreversibel. (http://anotebookmidwifemcb.wordpress.com/iugr/)
E.
Diagnosa
Identifikasi janin yang tumbuh tidak sesuai masih
menjadi tantangan.Masalah ini digarisbawahi oleh kenyataan bahwa identifikasi
seperti itu tidak selalu mungkin dilakukan bahkan di ruang perawatan sekalipun.Bagaimanapun
juga, ada teknik klinis sederhana dan teknologi yang lebih kompleks yang
terbukti bermanfaat untuk membantu menyingkirkan dan mendiagnosis pertumbuhan
janin terhambat. Beberapa teknik yang banyak digunakan serta yang potensial
digunakan sebagai berikut:
1. Pengukuran tinggi fundus uteri.
Pengukuran
tinggi fundus uteri yang dilakukan secara serial dan cermat selama kehamilan
adalah metode penapisan yang sederhana, aman, tidak mahal, dan cukup akurat
untuk mendeteksi banyak janin yang kecil untuk masa kehamilan (Gardosi dan
Francis, 1999).1 Kekurangannya yang utama adalah ketidak tepatannya.Jensen dan
Larsen (1991) serta Walvaren dkk.(1995) menemukan bahwa pengukuran
simfisis-fundus membantu mengidentifikasi hanya 40 persen bayi-bayi seperti
itu.Jadi, bayi yang kecil untuk masa kehamilan dapat terlewatkan atau
terdiagnosis berlebihan. Meskipun demikian, hasil-hasil ini tidak mengurangi
pentingnya pengukuran fundus yang dilakukan secara cermat sebagai cara
penapisan sederhana.
Metode
yang digunakan di kebanyakan klinik di Amerika Serikat dilaporkan oleh Jimenez
dkk. (1983). Singkatnya, cara ini menggunakan sebuah tali pengukur yang
dikalibrasi dalam sentimeter dan dipasang pada lengkung abdomen dari tepi atas
simfisis sampai ke tepi atas fundus uteri yang diidentifikasi dengan palpasi
atau perkusi. Tali pengukur tadi dipasang dengan penunjuk angka yang jauh dari
pemeriksaan untuk menghindari bias. Antara usia gestasi 18 dan 30 minggu,
tinggi fundus uteri dalam sentimeter bertepatan dengan minggu gestasi. Bila
ukurannya lebih dari 2 sampai 3 cm dari tinggi seharusnya, pertumbuhan janin
yang tidak sesuai dapat dicurigai.
2. Pemeriksaan dengan ultrasonografi
Bila
terduga telah ada hambatan pertumbuhan janin misalnya karena pada kehamilan itu
terdapat faktor-faktor risiko seperti hipertensi, pertambahan berat badan ibu
hamil tidak mencukupi, atau tinggi fundus uteri jauh tertinggal atau ibu hamil
dengan diabetes melitus dengan komplikasi vaskuler, pemeriksaan lanjutan dengan
uji yang lebih sensitif perlu dilakukan untuk konfirmasi. Kriteria
ultrasonografi untuk pertumbuhan janin terhambat terutama peningkatan rasio
panjang femur dari lingkaran perut, peningkatan lingkar kepala dari lingkar
perut dan oligohidramnion. Telah diketahui ada korelasi yang baik antara
pengukuran tinggi fundus uteri dengan beberapa antropometri janin seperti
diameter biparietal (DBP) atau lingkaran perut (LP) janin (r = 0,8).
Pemeriksaan
dengan ultrasound real-time akan bisa membedakan hambatan pertumbuhan
intrauterin asimetri dengan hambatan pertumbuhan intrauterin simetri, selain
dari itu dapat pula mengukur berat janin, gangguan pertumbuhan kepala (otak),
kelainan kongenital dan olighidramnion. Jika usia kehamilan dapat diketahui
dengan pasti, maka beberapa antropometri janin seperti DBP, lingkaran kepala
(LK), panjang femur, dan LP akan dapat memberikan kontribusi menguatkan
diagnosis hambatan pertumbuhan intrauterin dan menetapkan beratnya atau tingkat
gangguan pertumbuhan. DBP kepala janin baik sekali sebagai alat bantu
menetapkan usia kehamilan dalam trimester kedua karena kesalahannya relatif
sangat kecil pada waktu ini, dan terdapat korelasi yang dekat sekali antara DBP
dengan usia kehamilan.
Kehamilan pengukuran 5mm hanya sesuai dengan beda
1minggu pertumbuhan saja. Sayangnya, korelasi DBP dengan usia kehamilan makin
berkurang pada usia kehamilan yang lebih lanjut, semakin tua usia kehamilan
semakin kurang tepat usia kehamilan bila diukur pada DBP. Pada pasien yang
terduga mengalami hambatan pertumbuhan intrauterin, pengukuran kepala janin
harus telah dimulai pada usia kehamilan 16 sampai 20 minggu. Karena standar
error pengukuran DBP sekitar 2 mm dan pertumbuhan DBP sekitar 1,5 mm per minggu
dalam trimester terakhir, maka pengukuran DBP serial dalam trimester ketiga
tidak dapat memberi kontribusi yang cukup baik untuk memantau hambatan
pertumbuhan intrauterin, terlebih hambatan pertumbuhan kepala relatif baru
terjadi belakangan sekali (karena fenomena brain sparing effect) pada sindroma
insufisiensi plasenta.
Untuk
maksud mendiagnosis hambatan pertumbuhan intrauterin lebih baik dipergunakan
perbandingan ukuran (ratio) antara LK dengan LP yang sekaligus dapat membedakan
hambatan pertumbuhan intrauterin simetris dan asmetris.Ratio LK/LP bertambah
kecil semakin tua umur kehamilan. Pada usia kehamilan sampai dengan 32 minggu
LK > LP, pada usia kehamilan antara 32 minggu sampai 36 minggu ukuran
keduanya lebih kurang sebanding (LK = LP), dan setelah kehamilan berusia 36
minggu keatas LK < LP. Jadi pada hambatan pertumbuhan intrauterin asimetri
terdapat ratio LK/LP lebih besar daripada yang seharusnya menurut usia
kehamilan.
Bila
diagnosis hambatan pertumbuhan intrauterin telah ditegakkan, maka pengukuran
DBP akan menolong memonitor pertumbuhan otak janin dan mencegah disfungsi
susunan saraf pusat yang terjadi bilamana pertumbuhan DBF tidak bertambah lagi.
3. Penilaian volume cairan ketuban
Pada
hambatan pertumbuhan intrauterin terutama pada kehamilan yang berlatar belakang
hipertensi sering disertai oligohidramnion.Oligohidramnion bisa berakibat tali
pusat terjepit dan kematian janin dapat terjadi dengan tiba-tiba.
Oleh
sebab itu penilaian volume cairan ketuban perlu dipantau dari minggu keminggu
dengan pesawat ultrasonografi. Penilaian volume cairan ketuban dengan
ultrasonografi bisa dengan
cara mengukur kedalaman cairan ketuban yang paling panjang pada satu bidang
vertikal atau bisa juga dengan cara menghitung indeks cairan ketuban. Pada cara
pertama, jika kedalaman cairan ketuban yang terpanjang kurang dari pada 2 cm, adalah
merupakan tanda telah ada oligohidramnion dan janin yang sedang mengalami
kegawatan, kehamilan perlu segera diterminasi.
Sebaliknya jika panjang kolom dari cairan ketuban
berukuran > 8 cm merupakan tanda telah ada polihidramnion. Pada cara kedua,
uterus dibagi dalam 4 kuadran melalui bidang sagital dan vertikal yang dibuat
keduanya melalui pusat. Kolom cairan ketuban yang terpanjang dari tiap kuadran
dijumlahkan.Bila penjumlahan panjang kolom cairan ketuban itu < 5 cm,
merupakan tanda telah ada oligohidramnion.Bila panjangnya berjumlah antara 18
sampai 20 cm merupakan tanda telah ada polihidramnion.
F. Pemeriksaan Doppler Velosimetri
Pemeriksaan Doppler velosimetri arteria umbilikalis
bisa mengenal adanya pengurangan aliran darah dalam tali pusat akibat
resistensi vaskuler dari plasenta.Ditandai dengan tidak ada atau berbaliknya
aliran akhir diastolik yang menunjukkan tahanan yang tinggi.Pada kelompok
dengan rasio S/D (systolic and diastolic ratio) yang tinggi > 3 terdapat
angka kesakitan dan kematian perinatal yang tinggi dan karenanya dianggap
adalah indikasi untuk terminasi kehamilan.
G. Pemantauan kegiatan kerja jantung janin
Bila hambatan pertumbuhan intrauterin itu berlatar
belakang kekurangan gizi disebabkan kurang makan atau hambatan pertumbuhan
intrauterin itu karena ibu merokok jarang sekali bisa menyebabkan kematian
janin. Untuk maksud ini dilakukan pemeriksaan contraction stress test (CST)
atau uji beban kontraksi setiap minggu dengan menginfus oksitosin atau
merangsang puting susu ibu untuk membangkitkan kontraksi pada uterus.
Pemeriksaan non-stress test (NST) atau uji tanpa beban dua kali seminggu
dikatakan lebih baik lagi untuk memantau kesehatan janin terlebih bila bersama
dengan pemeriksaan profil atau tampilan biofisik janin yang dilakukan setiap
minggu.
H.
Uji Biokimiawi
Pemeriksaan ini tak lain adalah pemeriksaan fungsi
plasenta yang terutama bermanfaat untuk mengetahui kesehatan janin pada
keadaan maternal yang patologik yang telah disertai oleh insufisiensi fungsi
plasenta dimana produksi bahan-bahan tersebut oleh plasenta semuanya semakin
berkurang.
Pemeriksaan
kadar AFP (alfa-feto protein) serum ibu dalam kehamilan berusia sekitar 16
minggu memperlihatkan bahwa nilai tinggi sampai lebih dari pada dua kali lipat
nilai rata-rata sering kali akan disertai oleh kelahiran preterm atau kemudian
berkembang menjadi hambatan pertumbuhan intrauterin. Ini misalnya terjadi pada
kasus dengan solusio plasenta dini (± pada kehamilan 16 minggu) yang
menyebabkan perembesan AFP janin kedalam darah maternal sehingga kadarnya dalam
darah ibu menjadi tinggi.Kerusakan plasenta kemudiannya dapat menyebabkan
hambatan pada pertumbuhannya yang pada ujungnya berakibat kepada pertumbuhan
janin.
I.
Terminasi
kehamilan lebih awal
Berhubung
pemantauan janin dengan program, fetal surveillance .belum mencapai tingkat
kesempurnaan yang pasti dan sebagian bayi-bayi yang lahir rusak kesehatannya
atau meninggal akibat penderitaan intrauterin, maka sebaiknya janin dengan
hambatan pertumbuhan intrauterin dilahirkan lebih awal dipusat pelayanan
perinatal. Bila semua hasil pemeriksaan fetal surveillance normal terminasi
kehamilan yang optimal dilakukan pada usia kehamilan 38 minggu. Jika serviks
matang dilakukan induksi partus. Sebaliknya bila hasil fetal surveillance
menjadi abnormal dalam masa pemantauan sebelum mencapai usia kehamilan 38
minggu, kematangan paru janin perlu dipastikan dengan pemeriksaan rasio
lesitin/sfingomielin air ketuban. Bila ternyata paru-paru janin telah matang
(rasio L/S= 2 atau lebih) terminasi kehamilan dilakukan bila terdapat :
Ø
uji
beban kontraksi positif
Ø
oligohidramnion
Ø
DBF
tidak bertambah lagi yang berarti otak janin berisiko tinggi mengalami
disfungsi.
Pada
umumnya hambatan pertumbuhan intrauterin pada janin yang masih dalam usia
preterm tidak ada suatu tindakan tertentu yang dapat memperbaiki keadaan. Dalam
penanganannya pertama perlu dipastikan bahwa janin tidak mempunyai kelainan
kongenital yang berat seperti trisomi dan sebagainya untuk menghindari intervensi/bedah
sesar yang tidak perlu.Bila kelainan kongenital ini tidak ada, ibu hamil dengan
hambatan pertumbuhan intrauterin yang berat segera dirawat inap.Istirahat
baring, berikan makanan yang bernilai gizi tinggi, dan lakukan fetal
surveillance.
Bagi hambatan pertumbuhan intrauterin yang berlatar
belakang kurang gizi ibu, ibu perokok atau peminum atau peminat narkoba,
penghentian kebiasaan buruk ini dan perbaikan gizi disertai banyak istirahat
baring akan bisa memperbaiki pertumbuhan janin sekaligus sebagai upaya
mengurangi risiko lahir preterm.
Menurut
teori dan hasil suatu penelitian pemberian aspirin dosis rendah sejak awal
sebagai terapi anti trombosit akan mencegah pembentukan thrombosis
uteriplasenta, infark pada plasenta, maupun hambatan pertumbuhan intrauterine
idiopati pada wanita dengan riwayat hambatan pertumbuhan intrauterin berat.
Pada umumnya terminasi kehamilan pada fetus dengan
hambatan pertumbuhan intrauterin berat dan preterm adalah lebih menguntungkan
dari pada membiarkan kehamilan yang demikian berlangsung berlama-lama karena
biasanya fetus yang demikian sudah cukup matang untuk dapat hidup jika :
ü
Persalinan
dapat berlangsung cepat dan tidak berlama-lama dan membiarkan risiko gawat
bertambah
ü
Tersedia
monitoring yang ketat dalam masa persalinan untuk mencegah memburuknya keadaan
atau persalinan diselesaikan dengan bedah sesar
ü
Perawatan
intensif harus segera dimulai sejak neonatus lahir.
ü
Monitoring
intrapartum
Dalam
persalinan perlu dilakukan pemantauan terus menerus sebab fetus dengan hambatan
pertumbuhan intrauterin mudah menjadi hipoksia dalam masa ini.Oligohidramnion
bisa menyebabkan tali pusat terjepit sehingga rekaman jantung janin menunjukkan
deselerasi variabel.Keadaan ini diatasi dengan memberi infus kedalam rongga
amnion (amnioinfusion).Pemantauan dilakukan dengan kardiotokografi kalau bisa
dengan rekaman internal pada mana elektroda dipasang pada kulit kepala janin
setelah ketuban pecah/dipecahkan dan kalau perlu diperiksa pH janin dengan
pengambilan sampel darah pada kulit kepala.
Bila
pH darah janin < 7,2 segera lakukan resusitasi intrauterin kemudian disusul
terminasi kehamilan dengan bedah sesar. Resusitasi intrauterin dilakukan dengan
cara ibu diberi infus (hidrasi maternal) merebahkan dirinya kesamping kiri,
bokong ditinggikan sehingga bagian terdepan lebih tinggi, berikan oksigen
kecepatan 6 I/menit, dan his dihilangkan dengan memberi tokolitik misalnya
terbutalin 0,25 mg subkutan.
F.
Gejala
·
Gangguan pada uterus dan janin untuk
tumbuh normal diatas periode 4 minggu.
·
TFU paling sedikit kurang 2 cm dari
harapan untuk jumlah terhadap usia kehamilan dari pengukuran TFU sebelumnya.
·
Kekurangan penambahan berat badan ibu.
·
Gerakan janin yang kurang.
·
Kekurangan volume cairan amnion.
·
Lingkaran abdomen kecil (ukuran hepar
yang kecil)
·
Tungkai yang kurus (masa otot ↓)
·
Kulit keriput ( lemak subkutis ↓)
(Prawiroharjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta
: Bina Pustaka.)
G.
Penanganan
Langkah pertama dalam menangani PJT adalah mengenali
pasien-pasien yang mempunyai resiko tinggi untuk mengandung janin kecil.
Langkah kedua adalah membedakan janin PJT atau malnutrisi dengan janin yang
kecil tetapi sehat. Langkah ketiga adalah menciptakan metode adekuat untuk
pengawasan janin pada pasien-pasien PJT dan melakukan persalinan di bawah kondisi
optimal.
Untuk
mengenali pasien-pasien dengan resiko tinggi untuk mengandung janin kecil,
diperlukan riwayat obstetrik yang terinci seperti hipertensi kronik, penyakit
ginjal ibu dan riwayat mengandung bayi kecil pada kehamilan sebelumnya. Selain
itu diperlukan pemeriksaan USG. Pada USG harus dilakukan taksiran usia gestasi
untuk menegakkan taksiran usia gestasi secara klinis. Kemudian ukuran-ukuran
yang didapatkan pada pemeriksaan tersebut disesuaikan dengan usia gestasinya.Pertumbuhan janin yang suboptimal menunjukkan bahwa
pasien tersebut mengandung janin PJT.
Tatalaksana
kehamilan dengan PJT bertujuan, karena tidak ada terapi yang paling efektif
sejauh ini, adalah untuk melahirkan bayi yang sudah cukup usia dalam kondisi
terbaiknya dan meminimalisasi risiko pada ibu. Tatalaksana yang harus dilakukan
adalah :
1.
PJT pada saat dekat waktu melahirkan. Yang harus dilakukan
adalah segera dilahirkan
2.
PJT
jauh sebelum waktu melahirkan. Kelainan organ harus dicari pada janin ini, dan
bila kelainan kromosom dicurigai maka amniosintesis (pemeriksaan cairan
ketuban) atau pengambilan sampel plasenta, dan pemeriksaan darah janin
dianjurkan
a.
Tatalaksana
umum : setelah mencari adanya cacat bawaan dan kelainan kromosom
serta infeksi dalam
kehamilan maka aktivitas fisik harus dibatasi disertai dengan nutrisi
yang baik. Tirah
baring dengan posisi miring ke kiri, Perbaiki nutrisi dengan menambah 300 kal
perhari, Ibu dianjurkan untuk berhenti merokok dan mengkonsumsi alkohol,
Menggunakan aspirin dalam jumlah kecil dapat membantu dalam beberapa kasus IUGR
Apabila istirahat di rumah tidak dapat dilakukan maka harus segera dirawat di
rumah sakit. Pengawasan pada janin termasuk diantaranya adalah melihat
pergerakan janin serta pertumbuhan janin menggunakan USG setiap 3-4 minggu
b.
Tatalaksana
khusus : pada PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya dilahirkan, hanya
terapi
suportif yang dapat dilakukan. Apabila penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil
tidak adekuat maka nutrisi harus diperbaiki. Pada
wanita hamil perokok berat,
penggunaan narkotik dan alkohol, maka semuanya harus
dihentikan
a.
Proses
melahirkan : pematangan paru harus dilakukan pada janin prematur.Pengawasan
ketat selama melahirkan harus dilakukan untuk mencegah komplikasi
setelah melahirkan. Operasi caesar dilakukan apabila
terjadi distress janin serta
perawatan
intensif neonatal care segera setelah dilahirkan sebaiknya
dilakukan.
Kemungkinan kejadian distress janin selama melahirkan meningkat pada PJT karena
umumnya PJT banyak disebabkan oleh insufisiensi plasenta yang diperparah
dengan
proses melahirkan.
H.
Komplikasi
- Anomali
janin
- Asfiksia
perinatal
- Persalinan
operatif
- Kematian
perinatal
- Hipoglikemia
dan hipokalsemia neonatal
- Enterokolitis
nekrotikan
- “longterm
handicap”
- Peningkatan
kejadian diabetes non-insulin dependent dan penyakit jantung koroner
Penurunan jumlah cairan amnion sangat berhubungan dengan PJT.
Morbiditas akan terjadi bila AFI < 5 cm. Kombinasi OLIGOHIDRAMNION dan PJT akan
memberikan outcome kehamilan yang buruk dan dianjurkan untuk segera mengakhiri
kehamilan terutama bila usia kehamilan > 36 minggu.
I.
Asuhan
Kebidanan
Pada Ibu :
a. setelah
mencari adanya cacat bawaan dan kelainan kromosom serta infeksi dalam kehamilan
maka aktivitas fisik harus dibatasi disertai dengan nutrisi yang baik. Apabila
istirahat di rumah tidak dapat dilakukan maka harus segera dirawat di rumah
sakit. Pengawasan pada janin termasuk diantaranya adalah melihat pergerakan
janin serta pertumbuhan janin menggunakan USG setiap 3-4minggu.
b. pada
PJT yang terjadi jauh sebelum waktunya dilahirkan, hanya terapi suportif yang
dapat dilakukan. Apabila penyebabnya adalah nutrisi ibu hamil tidak adekuat
maka nutrisi harus diperbaiki. Pada wanita hamil perokok berat, penggunaan narkotik
dan alkohol, maka semuanya harus dihentikan.
c. pematangan
paru harus dilakukan pada janin prematur. Pengawasan ketat selama melahirkan
harus dilakukan untuk mencegah komplikasi setelah melahirkan. Operasi caesar
dilakukan apabila terjadi distress janin serta perawatan intensif neonatal care
segera setelah dilahirkan sebaiknya dilakukan. Kemungkinan kejadian distress
janin selama melahirkan meningkat pada PJT karena umumnya PJT banyak disebabkan
oleh insufisiensi plasenta yang diperparah dengan proses melahirkan.
Pada Bayi :
1.
Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterin.
2.
Memeriksa kadar gula darah dengan dextrostix jika hipoglikemi harus segera
diatasi.
3.
Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.
4.
Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibanding dengan bayi SMK
5.
Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi
mekonium.
1.2
Kematian Janin dalam kandungan (IUFD)
A.
Epidiomologi
Janin saat ini dipandang sebagai pasien yang
menghadapi resiko mortalitasdan morbiditas yang cukup serius. Secara
epidemiologi, angka insidensikematian janin di seluruh dunia diperkirakan
mencapai rentang 2,14 – 3,82 juta jiwa. Angka
ini mengalami penurunan pada tahun 2009, yaitu
sejumlah 14,5%.Kisaran angka tersebut adalah 18,9 lahir mati per 1000
kelahiran (MacDorman,2009).
Pada tahun 2005, data dari Laporan Statistik Vital
Nasional menunjukkantingkat nasional AS kelahiran mati rata-rata 6,2 per 1000
kelahiran (Barfield,2002).
Pada tahun 2009, jumlah global diperkirakan
saat dilahirkan adalah 2,64 juta (berkisar ketidakpastian, 2,143820000). Tingkat kelahiran mati di seluruhdunia
menurun 14,5% dari 22,1 bayi lahir mati per 1000 kelahiran pada tahun1995-18,9
lahir mati per 1000 kelahiran pada tahun 2009 (MacDorman, 2009).Berdasarkan
survey yang dilakukan oleh Depkes RI tahun 2003 (POGI,2006)
mengenai kegagalan yang terjadi selama masa kehamilan, didapatkan
datamortalitas perinatal di Indonesia berkisar 24 dari 1000 kehamilan.
Kondisikesehatan janin memiliki kontribusi tertinggi dalam mengakibatkan
mortalitasperinatal (39%) dibandingkan dengan faktor maternal (5,1%). Resiko
tingginya angka kematian yang berkaitan dengan faktor maternal
kebanyakan berupa jarak 15 bulan kehamilan dari persalinan terakhir dan
usia ibu hamil di atas 40 tahun
B.
Definisi
keadaan
tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan.Kematian janin dalam
kandungan (KJDK) atau intra uterine fetal deadth (IUFD), sering dijumpai baik
pada kehamilan dibawah 20 minggu maupun sesudah kehamilan 20 minggu.Sebelum 20
minggu :Kematian janin dapat terjadi dan biasanya berakhir dengan abortus.
Bila hasil konsepsi yang sudah mati tidak dikeluarkan
dan tetap tinggal dalam rahim disebut missed abortion.Sesudah 20 minggu
:Biasanya ibu telah merasakan gerakan janin sejak kehamilan 20 minggu dan
seterusnya. Apabila wanita tidak merasakan gerakan janin dapat disangka terjadi
kematian dalam rahim
C.
Etiologi
Ø Perdarahan : plasenta previa dan solusio placenta
Ø Pre eklamsi dan eklamsi
Ø Penyakit-penyakit kelainan darah
Ø Penyakit-penyakit infeksi dan penyakit menular
Ø Penyakit-penyakit saluran kencing : bakteriuria,
peelonefritis, glomerulonefritis dan payah ginjal
Ø Penyakit endokrin : diabetes melitus, hipertiroid
Ø Kelainan kromosom
Ø Trauma saat hamil
Ø Kelainan bawaan janin
Ø Malnutrisi dan sebagainya.
D. Patofisiologi
Janin bisa juga mati di dalam
kandungan (IUFD) karena beberapa factor antara lain gangguan gizi dan anemia
dalam kehamilan,hal tersebut menjadi berbahaya karena suplai makanan yang di
konsumsi ibu tidak mencukupi kebutuhan janin. Sehingga pertumbuhan janin terhambat
dan dapat mengakibatkan kematian. Begitu pula dengan anemia, karena anemia
adalah kejadian kekurangan FE maka jika ibu kekurangan Fe dampak pada janin
adalah irefersibel. Kerja organ – organ maupu aliran darah janin tidak seimbang
dengan pertumbuh janin (IUGR).
E.
Diagnosis
1.
Anamnesis
Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari,
atau gerakan janin sangat berkurang.Ibu merasakan perutnya tidak bertambah
besar, bahkan bertambah kecil atau kehamilan tidak seperti biasanya.Atau wanita
belakangan ini merasakan perutnya sering menjadi keras dan merasakan sakit
seperti mau melahirkan.
2.
Inspeksi
Tidak terlihat gerakan-gerakan janin, yang biasanya
dapat terlihat terutama pada ibu yang kurus.
3.
Palpasi
Tinggi fundus > rendah dari seharusnya tua
kehamilan, tidak teraba gerakanan janin.Dengan palpasi yang teliti, dapat
dirasakan adanya krepitasi pada tulang kepala janin.
4.
Auskultasi
Baik memamakai setetoskop monoral maupun dengan
Deptone akan terdengar DJJ.
5.
Reaksi
kehamilan
Reaksi kehamilan baru negatif setelah beberapa minggu
janin mati dalam kandungan.
6.
Rontgen
Foto Abdomen
Ø Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah
besar janin
Ø Tanda Nojosk : adanya angulasi yang tajam tulang
belakang janin.
Ø Tanda Gerhard : adanya hiperekstensi kepala tulang
leher janin
Ø Tanda Spalding : overlaping tulang-tulang kepala
(sutura) janin
Ø Disintegrasi tulang janin bila ibu berdiri tegak
Ø Kepala janin kelihatan seperti kantong berisi benda
padat.
7.
Ultrasonografi
Tidak terlihat DJJ dan gerakan-gerakan janin.
F. Gejala
- Terhentinya pertumbuhan uterus,
atau penurunan TFU
- Terhentinya pergerakan janin
- Terhentinya denyut jantung janin
- Penurunan atau terhentinya
peningkatan berat badan ibu.
- Perut tidak membesar tapi mengecil
dan terasa dingin
- Terhentinya perubahan payudara
G.
Penanganan
Ø
Bila
disangka telah terjadi kematian janin dalam rahim, tidak usah terburu-buru
bertindak, sebaiknya diobservasi dulu dalam 2-3 minggu untuk mencapai kepastian
diagnosis.
Ø
Biasanya
selama masih menunggu ini, 70-90% akan terjadi persalinan yang spontan.
Ø
Bila
setelah 3 minggu kematian janin dalam kandungan atau 1 minggu setelah
didiagnosis, partus belum mulai, maka wanita harus dirawat agar dapat dilakukan
induksi partus.
Ø
Induksi
partus dapat dimulai dengan pemberian estrogen untuk mengurangi efek progesteron
atau langsung dengan pemberian oksitoxsin drip, dengan atau tanpa amniotomi.
H. Komplikasi
Ø
Trauma
emosional yang berat terjadi bila waktu antara kematian janin dan persalinan
cukup bulan.
Ø
Dapat
terjadi infeksi bila ketuban pecah.
Ø
Dapat
terjadi koagulasi bila kematian janin berlangsung > 2 minggu.
I.
Asuhan
Kebidanan
- berikan dukungan mental dan spiritual pada ibu.
- berikan Penkes tentang pemberian makanan yang bergizi
- berikan Penkes tentang personal hygine.
- beri penjelasan kepada ibu kehamilan berikutnya
untuk ANC yang teratur
-
lakukan rujukan untuk kuretase
BAB
III
PENUTUP
1.1
Kesimpulan
Persalinan
prematur didefinisikan sebagai persalinan dengan batas kehamilan antara 26
minggu sampai 36 minggu
Kehamilan postterm adalah kehamilan yang berlangsung
> 40 minggu dihitung menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28
hari.
Pertumbuhan
janin terhambat ditentukan bila berat janin kurang dari 10% dari berat yang
harus dicapai paa usia kehamilan tertentu.
Kematian Janin dalam kandungan
adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan.
Kematian janin dalam kandungan (KJDK) atau intra uterine fetal deadth (IUFD).
1.2
Saran
1. Para tenaga kesehatan terutama
seorang bidandiharapkan memahami tentang kelainan lamanya kehamilan
dan kematian janin.
2. Bidan harus bisa mendeteksi kelainan lamanya kehamilan
dan kematian janin, dan merujuk pasien ke tempat yang benar.
3. Ibu hamil sebaiknya melakukan ANC rutin untuk dapat
memantau adanya kelainan pada kehamilannya sedini mungkin.
DAFTAR
PUSTAKA
Dikutip
dari Buku Maternal dan Neonatal, 2002
Manuaba,
Ida Bagus Gde. 2000. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC
Arif
Mansjoer Dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media
Aesculapius.
Prawirohadjo, Sarwono.
2008. Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka, Jakarta, Edisi keempat, 2008.
Manuaba,
Ida Bagus Gde. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri untuk Mahasiswa
Kebidanan. Jakarta: EGC.
Chrisdiono
M, Achadiat.2004.Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC